Just another WordPress.com site

Category Archives: Uncategorized


Image

sumber gambar
Suatu waktu di daerah bogor devi bermaksud naik angkot bersama putrinya. Anak devi ternyata menemukan benda aneh yang tak seharusnya berada di dalam angkot. Ternyata setelah dilihat lebih dekat ada benda mewah bernama Iphone 5, benda yang jadi trend setter kalangan metropolis. Benda yang dijadikan gaya hidup oleh sebagian kalangan.

Tak lama devi pun memutuskan untuk membawa iphone 5 itu kerumahnya. Kemudian mengkonsultasikan mengenai penemuan iphone 5 itu kepada wisnu. Kemudian mereka pun mencoba menyelidiki ponsel pintar itu untuk mengecek siapa pemilik barang itu sebenarnya. Beruntung iphone itu tidak menggunakan kunci kombinasi untuk bisa masuk ke dalamnya.

Alhasil dihubungilah dua nomer yang paling “dicurigai” bisa menguak siapa sebenarnya pemilik ponsel itu yaitu kontak bernama “rumah” dan “istri cinta” namun ternyata dua nomer itu tak bisa pula dihubungi. Media social macam facebook pun sempat dibuka, yang akhirnya muncul profil seseorang dengan latar belakang logo Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hanya saja jika berdasar akun facebook saja, devi masih merasa kurang yakin.

Akhirnya, devi menemukan juga nomer handphone pemilik ponsel itu dari inbox yang tentang tagihan dari operator telepon yang dipakai sang empunya. Singkat cerita setelah dihubungi, ponsel itu pun kembali ke tangan pemilik seharusnya.

***

Betapa cerita ini langka, apalagi berharap berita seperti ini menjadi headline media ternama. Saya sendiri menemukan artikel ini (yang kemudian saya tulis ulang) dari sebuah media islam non mainstream islamedia. Islamedia pun mengutip dari blog beralamat ini bigwisu.com . saya sendiri memilih menyamarkan nama orang yang mengembalikan iphone ini tujuannya agar terjaga keikhlasan sang “devi” seperti biasa saya lakukan di tulisan lainnya.

Berita tentang aksi-aksi kejujuran memang kalah pamor ketimbang gosip artis, perkara korupsi yang belum juga terbukti kebenarannya, gubernur yang sering blusukan tapi bukannya perkara kejujuran ini adalah hal yang langka atau bahkan tidak ada tapi memang perkara seperti ini tidak mendapat tempat di media-media besar. Maka tak heran kita setiap harinya menemukan berita negatif dari media-media besar. Apa jadinya jika otak kita yang kapasitasnya terbatas ini diisi dengan perkara-perkara negatif? Bisa penuh duluan otak kita oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.

Advertisements


 

i_have_a_dream_by_setobuje-1

Mohon maaf saya baru posting lagi hari ini

memang saya cukup kesulitan menggali kisah hikmah yang berasal dari diri sendiri dan kawan dekat

tapi tak ada salahnya saya mengambil kisah dari artikel di internet

yang benar-benar berhikmah

kali ini saya menyoroti perjuangan para jilbaber di era 1980-an

negeri yang mayoritas muslim ini memang ternyata masih harus banyak belajar

belaJar tentang Islam dan syariatnya

buktinya ketika Jilbab disamakan dengan PKI oleh sebagian kalangan

bagaimana perasaan para pendahulu kita itu ya?

Subhanallah, saat ini semakin mudah kita menjalankan syariat Jilbab

kita perlu banyak-banyak bersyukur atas nikmat ini

kisah ini benar-benar membuat kita merenung akan nikmat kebebasan berjilbab

Memoar Perjuangan Jilbab era ’80-an
Kisah jilbab: Ami Fidiyanti, SMA N 28 Jakarta

Kulihat dari ujung kacamataku, teman-teman ikhwan membagi-bagikan jilbab pada teman-teman perempuanku. “Ayo dong pake, nih udah dibawain! Pake’ deh, jadi tambah cakep loh!” ucap mereka dengan semangatnya. Tentu saja kubersyukur. “Ah, teman-teman makasih ya udah ngeringanin tugas akhwat untuk merayu mereka.” Kadang kalau dipikirkan lucu juga teman-teman perempuan itu, mereka nggak kuat kalau yang ngerayu itu ikhwan. Ikhwannya sih seneng-seneng aja, begitu juga dengan teman-teman perempuanku itu yang rela didandanin meng-akhwat. Ya, begitulah yang kami lakukan saat pelajaran agama Islam. Pak Guru membolehkan kami belajar tanpa lepas jilbab maka kami memanfaatkan untuk ‘menjilbabi’ seluruh siswi yang ada di kelas dengan cara memodali mereka jilbab dan peniti. Perbuatan dramatis itu jelas mendapat teguran dari sekolah yang diarahkan ke Pak Guru Agama.

Teguran itu sebenarnya berawal dari sikap kami yang mulai berjilbab di sekolah yang komunitasnya tak pernah berhenti sejak kemunculannya pada 1983 di sekolah tercinta ini. Persoalan jilbab di sekolah negeri mulai ada sejak era ’80-an. Kisahnya selalu klasik yang diakhiri dengan keluarnya siswi tersebut secara sukarela. Hal itulah yang dialami oleh kakak kelas pada angkatan ’83-’85. Tahun-tahun awal itu saat-saat yang berat bagi jilbaber. Apalagi kepengurusan Rohis belum berjalan baik, masih individual dan pengajian di sekolah belum ada. Belum ada komunikasi di antara jilbaber karena jumlahnya masih minim, untuk angkatan ’83 hanya satu orang. Saat itu ia dimusuhi oleh guru bahkan sempat melompat pagar sekolah ketika dikejar-kejar guru karena memakai jilbab terus di sekolah. Akhirnya seperti siswi SMA lain pada umumnya, ia memilih keluar untuk menjaga aqidah Islamiyah. Untuk sesaat, sekolahku ini menjadi kawasan bebas jilbab.

Keberadaan jilbab mulai ‘welcome’ saat jilbaber menurut peraturan sekolah untuk bongkar pasang beberapa tahun setelah peristiwa itu. Wakasek yang kebetulan non-muslim tetap menentang keberadaan kami, sedangkan Kepsek, alhamdulillah tidak terlalu menentang. Ia melihat siswi-siswi berjilbab di SMA tetangga kami (SMA 26) banyak yang membuat harum nama sekolah dengan prestasinya dalam lomba-lomba bidang studi. Di sini, kami memang low profile, hanya ikhwannya yang menonjol sehingga citra jilbab belum terbangun. Walau demikian, para guru cukup toleran dengan memperbolehkan kami membuka jilbab setelah tiba di dalam sekolah. Hal itu tidak bisa kami lakukans etiap saat sebab Wakasek tercinta itu sudah menunggu kami dengan setia di pintu pagar, “Ayo dibuka jilbabnya!” ujarnya tanpa memandang bagaimana perasaan kami ‘digunduli’ di jalan raya yang cukup ramai. Ya, apa boleh buat, kami terpaksa buka jilbab di situ. Alhamdulillah, ia tidak tiap pagi nongkrongin kami. Selamat dari ujian pertama, melangkah pada ujian kedua. Guru BP kadang ngecek siswa, dari baju yang kependekan, sampai… yang kepanjangan. “Kalau ada yang kepanjangan, saya gunting!” katanya. Ah, ujian itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan para sahabat, seperti Bilal atau Amar bin Yassir yang kehilangan kedua orangtuanya.

Kami menyadari bahwa kami berbeda dengan teman-teman yang lain. Jilbab-jilbab yang melambai bahkan ada yang super lebar sampai menyentuh ujung sepatu sempat diprotes sekolah. Yang membuat kami sedih bahkan cenderung stress, yaitu jam olahraga. Olahraga berarti olah jiwa bagi kami. Masya Allah, kami harus pamer aurat, bukan hanya sekadar buka aurat saja. Untuk membayangkannya saja ngeri rasanya, tapi itulah yang terjadi pada tahun 1990. Pada jam olahraga itu kami harus lari keluar dari sekolah. Rute yang ditempuh ialah sekolah-lapangan Palapa PP. Sekolah kami berada pas di pinggir jalan raya. Manusia dan mobil berseliweran setiap detiknya, dan mereka dengan enaknya dapat memandang kami. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kalau ‘gundul’ hanya baju olahraga saja, tanpa kerudung kepala, kami tetap harus berlari. Hanya dengan pakaian dan celana selutut saja sudah begitu menyiksa kami, ditambah lagi harus berkeliling di jalan raya. Tampang kami yang culun dengan rambut diikat kuda tentu kentara bedanya dengan siswi yang tidak berjilbab, seolah-olah orang-orang di jalan mengatakan, “Itu tuh siswi yang pake jilbab!” “Ya Allah, kuatkan hamba.”

Allahu Akbar! Kami mampu melakukan ‘kucing-kucingan’. Setelah keluar dari pintu gerbang, kami mencari mobil yang diparkir, lalu di balik mobil itu, kami mengenakan jilbab dan… berlari. Sampai di daerah Palapa, dengan lambat-lambat, tanganku bergerak ke atas membuka jilbab. “Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Kami sadari kami tidak kaffah, tapi itulah yang mampu kami lakukan saat ini. Ampuni kami ya Allah!”

Kapankah tibanya pertolongan-Mu, ya Allah?

Kapankah Kau kabulkan doa yang kami bisikkan dalam shalat-shalat panjang kami?

Subhanallah, titik terang itu mulai berpencar cahayanya. Saat itu pada 1990, ada musyawarah MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) se-Jaksel yang dihadiri beberapa SMA di antaranya SMA 6, 8, 28, 38, dan 70 yang membahas lokalisasi WTS. Topik yang berkenaan dengan moral itu menjadi momen yang pas untuk melempar isu jilbab dengan harapan jilbab diperbolehkan. Momen kedua menuai isu jilbab saat Pak Arif Rahman (Kepsek SMA Lab-School) berbicara di sekolah kami. Di depan para guru, Pak Arif menyatakan, “Jilbab itu bukan suatu ancaman, malah membuat anak jadi baik.” Allahu akbar! Kami melihat reaksi yang positif. “Ssst… wakepsek ngangguk-ngangguk, ibu BP juga ngangguk-ngangguk, wah ada harapan nih,” bisik teman sebelahku layaknya berdoa.

Doa adalah usaha yang tak pernah kami hentikan, ia selalu terucap dalam setiap detik langkah kami. Subhanallah, Depdikbud sebagai pihak yang berwenang mendengar aspirasi kami (setelah beberapa kasus jilbab mencuat) dengan mengeluarkan SK 100 tahun 1991. Kami bersyukur, dan memang selayaknya bersyukur. Sujud syukur pun dilakukan serentak di Masjid al-Azhar pada Januari 1991. Mendengar kabarnya saja, hanya air mata yang menjadi saksi. Kami tak bisa membendung tangis ini. alhamdulillah wa syukurilah. Sementara itu, kami masih bingung, apakah sudah boleh mengenakan jilbab atau belum karena kami tak mempunyai SK tersebut. Kepsek yang baru hanya menyatakan, “Saya tidak melarang, juga tidak menyuruh,” tetapi guru BP tetap patroli seperti dulu.

Sujud syukur di Masjid al-Azhar dihadiri oleh ratusan muslimah dan subhanallah, aku… adalah salah satu di antaranya. Ternyata, yang berjuang menegakkan syari’at Allah itu bukan hanya aku, banyak sekali jumlahnya, belum lagi di daerah yang tidak sempat menghadiri acara itu. Usai acara di pagi itu, tugas baru menunggu, yaitu memberitahukan kepada teman-teman di sekolah bahwa futuh jilbab sudah benar-benar terjadi. Kami juga harus menentukan apakah mulai hari ini mengenakan jilbab di sekolah, kami bingung. Ya Allah, apakah kami belum siap dengan futuh jilbab? Apakah terlalu singkat perjuangan kami sehingga kami belum bisa menghayati perjuangan kakak-kakak kami dahulu? Akhirnya kami menunda memakai jilbab pada hari bersejarah itu.

Pada masa transisi itu, para ikhwan mengadakan negosiasi dengan sekolah. Mereka meminta akhwat bersabar. “Aduh akhi, bagaimana mau kompromi lagi, ini kan aurat, yang malu kan kita-kita ini para akhwat,” keluh akhwat. Alhamdulillah pada pelajaran olahraga, jilbab boleh dikenakan. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, guru BP memanggil semua jilbaber dari kelas I, II, dan III untuk briefing. Kami, sekitar 40-50 orang sudah mempersiapkan argumen, memilih jubir, tetapi kami tidak sanggup bicara, semuanya menangis duluan. Guru BP memulainya dengan menyentuh jiwa bahwa kewajiban sekolah ini untuk orangtua. Ia memainkan emosi yang terdalam, tentang bakti kami kepada orangtua. Wakasek juga mengingatkan bahwa sikap keras kami tak ubahnya seperti gerakan PKI yang laten. Kami memang menentang peraturan pemerintah, kami menentang sekolah, tapi masya Allah, kami…. Kami juga menentang orangtua, termasuk aku. “Ya Allah, bagaimana kami bisa bicara, kalau kami langsung diingatkan kepada orangtua kami di rumah. Kubayangi bapak dan ibu yang kecewa terhadap sulungnya.”

Aku adalah anak sulung yang dicita-citakan menjadi wanita karir. Ternyata aku lebih cepat diizinkan meraih hidayah-Mu. Aku mengenal jilbab saat SMP kelas III. Aku sempat nyantri saat liburan, yang setiap ustadz datang mengajar, ia selalu mengatakan, “Pakaiannya harus pakaian muslimah!” Kulihat juga keagungan wanita berjilbab. Simpatiku pada jilbab sampai pada tahap identifikasi, sayang ortu tak mengizinkan. Setelah itu, hari-hariku berjalan biasa sampai aku diterima di SMA Negeri 28 Jaksel ini. keahlian menari Jawa mengantarkanku masuk nominasi AFS. Saat tes akhir AFS, aku berada pada garis kebimbangan setelah membaca artikel tentang seorang wanita Barat yang masuk Islam dan memilih hijrah ke Mesir. “Lho kok, kenapa aku, wanita Islam malah mau hijrah ke Amerika?” konflik batin terjadi. Aku teruskan niatku di AFS karena aku tertantang ucapan Bapak yang mengizinkanku berjilbab jika lulus AFS. Ternyata aku gagal.

Sementara itu, Bapak terus mencari kebenaran tentang jilbab kepada seorang ulama terkenal yang baru saja pulang dari Amerika, yang kebetulan tetanggaku. Bapak mendapat pertimbangan bahwa jilbab itu dosa kecil yang diampuni. Astaghfirullah! Kuhiraukan argumen ulama tersebut, aku putuskan pake jilbab saat daftar ulang kelas II. Ortu meradang, katanya, “Ini sekali, apa diterusin?” aku disidang. “Benazir Bhuto saja nggak begitu, Pak itu aja yang ulama keluarganya tidak berjilbab,” tegas Bapak. Aku tetap pada sikapku. Bapak jatuh sakit. Akhirnya aku backstreet, berangkat dari rumah ke sekolah melewati jalan yang sepi lalu pake di sana sampai sekolah.

Hal itu kulakukan selama seminggu di kelas II. “Ya Allah, aku mampu membohongi ortu, tapi… aku tidak mampu membohongi diri sendiri.” Bismillah, aku beranikan diriku pulang dengan memakai jilbab sampai depan rumah. Jilbabku langsung direnggut saat itu juga, aku hanya menatapnya lalu masuk kamar dan mengadu pada Allah. Aku menangis. Bapak mengancamku, “Kalau kamu pake lagi, semua bajumu akan diambil.” Aku mencoba istiqomah dengan mencuci dan menjemur baju sendiri. Herannya, semuanya hilang. Ketika hal ini kuceritakan kepada akhwat di sekolah, mereka malah menertawakanku, “Masa di rumah sendiri hilang,” kata mereka. “Iya… ya, lucu juga.” Walhasil, aku kehabisan baju dan jilbab.

Subhanallah, aku tak pernah membayangkan pertolongan Allah datang kepadaku. Saat aku benar-benar kehabisan sandang untuk sekolah, aku mencoba mengambilnya dari kamar ortu. Kuharap bapak tidak membakar baju dan jilbabku seperti janjinya. Aku tidak tahu bagaimana badanku bisa mengecil sehingga mampu masuk kamar yang terkunci itu. Aku hanya melepas satu buah nako dan melewatinya dengan mudah. Badanku memang kurus, tapi melewati jendela nako yang kulepas satu, aku tak bisa membayangkannya. Allahu akbar. Kudapati di atas lemari, semua baju yang kubutuhkan. Bluur… akhirnya aku ambil dua buah untuk menepis kecurigaan.

Semenjak memakai jilbab dan menentang aturan ortu, aku disisihkan dan tersisih dari keluarga besar. Aku seperti disembunyikan di dalam rumah saja, mereka malu mengajakku karena berjilbab. Itu tidak mengapa, tapi… ternyata Bapak menahan SPP-ku selama satu semester. Alhamdulillah ada om-ku yang membayarkannya tanpa sepengetahuannya. Aku tetap mencoba untuk berkomunikasi, aku katakan kepada Bapak, “Walaupun aku tidak nurut pada Bapak, tapi aku tetap anak Bapak.” Bapak memenuhi permintaanku hingga Bapak kembali membayar SPP. Sikap Bapak tetap tidak berubah.

Tekanan dari sekolah dan terlebih dari rumah membuatku selalu berpikir. Aku terkena sakit kepala yang amat sangat, stress, high tension, dan harus berobat ke bagian neurologi RSCM sendirian. Aku masuk EEG sendirian, dan aku menangis sendirian saat kartu berobatku hilang. Hasil EEG menyatakan bahwa aku tidak ada kelainan, hanya tension headache ‘tekanan psikis’. Hal itu terjadi karena kejadian berat selama dua tahun setelah berjilbab. Aku bertambah stress menjelang UMPTN. UMPTN adalah penetuan, kalau tidak lulus maka aku makin tersisih bahkan dalam keluarga besarku.

Pada saat libur lebaran, kami pulang kampung ke Solo. Ibu mencoba mengobati dengan membawaku ke pengobatan tradisional, macam pijat refleksi. Mungkin ibu kasihan melihatku jika datang pusing yang amat sangat. Aku mengaduh di kamar sampai tetangga sebelah mendengar erangan sakitku. Orangtua itu memengang kakiku, bertanya, “Keras amat sih mbak, mendem apa?” Saya menangis nahan sakit. Ibu menjelaskan, “Iya, dia mau pake jilbab, tapi nggak boleh cerita-cerita apalagi sama Om-nya yang deket, walau tinggalnya jauh dari kami.” Bapak itu juga cerita bahwa anaknya yang kuliah di UNS bahkan bercadar, dan tetap pada pendiriannya. Terus ibu bilang, “Kalau kamu mau pake jilbab, terserah!” Terserah… kata itu yang sebenarnya aku tunggu selama dua tahun dari orangtua yang melahirkanku. Subhanallah ibu ridha. Tiga pekan aku di kampung, penyakitku hilang. Aku mengikuti UMPTN dengan baik dan alhamdulillah aku diterima di PTN favorit pada 1992.

Bila kukenang perjuangan kecilku, ternyata tidak sia-sia. Perlahan, satu persatu adik-adikku ikut mengenakan jilbab. Kenikmatan ini memang terlambat dibanding dengan kenikmatan di sekolah. Sekolah tak melarang lagi setelah SK jilbab ’91 diputuskan dan disosialisasikan. Jumlah dari kami dari 40-an bertambah menjadi 150-an jilbaber. Aktivitas mendandani siswi untuk mengakhwat terus berlanjut walau bahkan setelah pelajaran Agama usai. Hanya guru non-muslim yang menyindir, “Coba ya, dirapikan pakaiannya.” Aktivitas Rohis juga semakin baik. Pak guru Agama ditunjuk menjadi PJ Tafakur Alam SMA se-Jaksel. Rohis sendiri melakukan konsolidasi dengan membina seluruh anggotanya secara kontinu dengan bantuan alumni sampai mereka menjadi alumni. Pihak sekolah mendukung dengan cara mewajibkan acara Rohis, seperti Studi Islam Ramadhan, bahkan masuk rapor. “Tak lepas-lepasnya lidah ini mengucap tahmid pada-Mu, ya Allah.”

buku Revolusi Jilbab karya Alwi Alatas dan Fifrida Desliyanti, bertepatan dengan Hari Hijab Internasional (4 September)

Semoga menjadi pelajaran kita semua



Image

 

sepanjang kuliah saya di spesialisasi Kebendaharaan Negara STAN

baru kali ini saya seantusias ini pada suatu pelajaran

apa ya mata kuliah persisnya?

Yang jelas membahas tentang utang Negara

 

Saya penasaran dengan utang yang dimiliki Negara ini

Kenapa setiap harinya semakin besar?

Tak adakah upaya untuk menguranginya?

Malah justru, ada saja setiap tahun tambahan utang

 

Sebenarnya apa yang terjadi?

Saya tertarik untuk mendalaminya

 

Ketika PKL pun, saya ambil bahasan utang

Sempat PKL di Ditjen Perbendaharaan yang membawahi soal utang

Saya jadi sedikit tahu (cuma sedikit)

Bahwa utang Negara ini ternyata digunakan untuk membeli barang

Dari Negara yang kasih pinjam

What the maksud of the meaning?

 

Memang nggak semuanya seperti itu,

Tapi dari satu contoh saja, bahwa utang itu ternyata

Banyak yang nggak digunakan untuk hal-hal yang produktif

Makanya, saya geregetan untuk belajar utang Negara

 

Saya pun berkeinginan masuk ke ditjen pengelolaan utang

Pecahan dari ditjen perbendaharaan

Di kementerian keuangan

Apa daya, saya ternyata masuk BPKP

Hal yang sampai sekarang saya sesalkan

Heuheu

 

Dari apa yang saya baca, ternyata banyak utang Negara

Digunakan untuk mengadakan training ke Negara pemberi utang

Digunakan sebagai beasiswa kuliah ke negeri mereka

Lha apa enaknya sih?

 

Ngasih utang tapi segala-galanya diatur sama yang kasih utang

Lha itu sih setengah-setengah namanya

Semuanya di atur dan seolah hanya dipakai untuk memutar roda bisnis mereka

Mereka dapat bunga utang, mereka dapat proyek, ini namanya dobel untung

Indonesia namanya dobel buntung

 

Boleh dong saya bilang utang itu dipakai untuk menjajah?

Lha semuanya diatur sama yang kasih utang kok

Apa nggak menjajah namanya?

 

Kalau hibah gimana don?

Saya sering berpikir, untuk apa ya Negara lain kasih hibah ke Indonesia?

Mau-maunya mereka kasih hibah,

Baik bener yak

Apa ada maunya?

 

Yang saya sering denger dari berita sih Negara jepang paling sering kasih hibah

Misalnya kereta bekas

Maklum lah, saya kan pengguna kereta Commuter Line buatan Jepang ini

Tapi, masak sih perusahaan kereta Indonesia nggak bisa bikin ginian?

Saya yakin PT INKA dapat membuatnya

 

Saya kok jadi berpikir terlalu jauh ya,

Jepang kasih hibah, trus usaha jepang di Indonesia lancar jaya

Apa aja sih usaha mereka?

Yang paling kelihatan ya perusahaan otomotif

Baik mobil atau motor

Ini nih yang paling berandil bikin macet jakarte

Biang keroknya ya perusahaan otomotif

Bener nggak?

 

Jadi kesimpulan saya

Utang maupun hibah, berpotensi menjadikan Negara kita terpenjara

Ibarat makan buah simalakama

Kalau mau utang ya ikut saran mereka untuk kebijakan macem-macem

Sama aja dong Indonesia dijajah via utang dan hibah?

Anda  yang menyimpulkan

 



Image

sumber gambar

 

hari-hari terakhir ini media nasional ramai-ramai membully PKS

partai yang selama ini menjadi harapan saya

harapan untuk mengubah bangsa ini

saya memang dekat dengan banyak kader partai ini

terutama di lingkungan saya tinggal

saya ikut juga menimba ilmu agama dengan mereka

kalau dibilang PNS nggak boleh ber partai

ya saya nggak berpartai,

saya bukan anggota partai

saya adalah fans berat partai ini

saya mempunyai perasaan yang sama dengan kader-kader partai ini

jadi mereka adalah saudara seiman

saya turut dibimbing menata hidup oleh kader partai ini

hingga kini, saya bisa lebih dekat dengan Allah

entah, jika taka da kader partai ini yang menarik saya ikut pengajian

mungkin saya sampai sekarang masih begajulan

jadi ketika hari-hari ini masyarakat banyak menghujat partai ini

perih rasa hati ini, pilu sekali

jalan kepartaian yang banyak dihindari orang banyak

memang menuntut para pengusung PKS tabah

melebarkan hati untuk menerima setiap hinaan, cacian, makian, dan fitnah

presiden LHI menjadi tersangka kasus korupsi impor daging sapi

padahal, beliau tidak ditangkap tangan

entah bukti apa yang di miliki oleh KPK

yang jelas, semua terkesan tiba-tiba sekali

beda sekali dengan kasus yang menimpa Andi mallarangeng dan Anas Urbaningrum

Apalagi terhadap para tersangka kasus Bank Century

Miris rasanya

Mungkin, karena kasus ini menimpa PKS

Masyarakat makin ramai mencela partai ini

Mereka anggap, jika kesalahan itu menimpa PKS

Maka aib luar biasa

Saya jadi teringat dengan kisah tahun 2004 lalu

Saya ambil tujuan utama “ Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad”

Biasanya orang komunikasi ya jadi PR-nya perusahaan-perusahaan

Atau banyak juga yang jadi wartawan

Jurusan itu saya pilih karena saya merasa suka dengan yang namanya berkomunikasi

Jadi organizer suatu acara itu seru sekali

Saya betul-betul menikmatinya

Jadi, jatuhlah pilihan saya pada Ilmu Komunikasi Unpad

Singkat cerita saya lulus SPMB dan diterima di Ilkom unpad

Esok harinya saya diterima juga di Spesialisasi Kebendaharaan Negara STAN

Saya yang sudah tenang diterima di Unpad jadi malah galau

Bingung pilih mana, banyak yang menyarankan saya untuk masuk STAN saja

Saya makin bingung, hati kecil saya masih condong di unpad

Akhirnya, bude saya memberi masukan

“Kamu ngapain kuliah komunikasi?

Paling juga nanti jadi wartawan kan?”

Saya hanya diam tanda tak setuju

Siapa bilang wartawan profesi yang nggak baik?

Siapa bilang wartawan profesi yang nggak terpandang?

Namun, seiring berjalannya waktu

Dan melihat kondisi saat ini

Saya jadi mulai paham

Bukan maksud dari wartawan itu jelek

Tapi memang jadi wartawan itu sangat berat

Sungguh berat

Beberapa hari ini isu dugaan korupsi daging sapi

Yang melibatkan presiden PKS membuat saya miris

Betapa media berperan sekali membentuk opini publik

Mereka dengan mudahnya memberitakan sesuatu

Bahkan menghakimi orang dengan tuduhan-tuduhan yang

Tidak benar atau barangkali belum diketahui kebenarannya

Betapa lisan yang telah terlontar

Tak akan bisa ditarik kembali

Seperti paku yang ketika sudah ditancapkan ke kayu

Tak akan bisa membuat kondisi paku itu seperti sedia kala

Pasti ada bekas pakunya disana

Media,

Memberitakan banyak berita yang tidak akurat dan tendensius

Disebut LHI tertangkap tangan lah, bersama wanita bernama M lah

Padahal LHI tidak tertangkap tangan, apalagi bersama wanita bukan muhrim

Di kamar hotel

Sudah jelas berita itu salah,

Media bukannya segera membuat pernyataan maaf

Dan membuat ralatnya

Malah membiarkannya, seolah tak terjadi apa-apa

Kemudian, tuduhan yang bilang korupsi segala macam

Lha wong belum terbukti

Kenapa sudah menghakimi seperti itu?

Masya Allah, pastinya akan menambah timbangan amal buruk bagi wartawan

Saya kini sadar, bude telah memberikan saran yang sangat baik bagi saya

Saya tidak jadi masuk Unpad, meski bukan hanya bude saya yang memberikan kontribusi saran

Namun, saat ini itulah yang saya lihat begitu bermanfaat

Saya tak menjadi wartawan, tak punya resiko keseleo memberitakan berita bohong, fitnah, adu domba

Alhamdulillah,

Terimakasihku pada bude di babar sari, jogja



Image

Berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan memang bukan sesuatu pengalaman

Yang indah untuk di ceritakan

Bayangan seram pun menggelayut di depan mata

Bahwa penghuninya adalah orang-orang seram yang terlibat kasus hokum serius

LP anak juga merupakan tempat yang menyeramkan bagi sebagian kalangan

Bagaimana bisa masih anak-anak saja sudah masuk penjara?

Gambaran anak-anak berprilaku liar sudah mengemuka di depan mata

Namun, semua itu akan pupus melihat seorang anak bernama Arif

Arif, seorang narapidana anak yang cerdas

Usianya baru delapan tahun dan tingkahnya malu-malu bersembunyi

Dibelakang petugas lapas

Sikapnya pun sopan, tidak seperti bayangan saya terhadap narapidana

Ketika membaca berkas kasus yang diserahkan oleh sipir

Ternyata, sebelum masuk LP, Arif adalah seorang juara di sekolahnya

Kemampuan lainnya pun menonjol,

Jago gambar, Jago main suling, Juga juara mengaji dan adzan tingkat anak-anak

Kemampuan berhitungnya pun sangat menonjol

Keterkungkungannya di dalam penjara pun tidak menghalangi Arif kecil berprestasi

Ia adalah juara dua se-Provinsi

Lantas, bagaimana bisa orang seperti Arif bisa masuk penjara?

Arif didakwa membunuh dengan rencana oleh hakim

Ceritanya begini, saat itu Arif belum genap berusia tujuh tahun

Ayahnya adalah seorang pedagang di sebuah pasar di daerah bekasi

Dihabisi oleh preman pasar yang biasa memungut uang keamanan

Ayah Arif enggan membayar biaya keamanan yang sangat tinggi

Jadilah ia jadi bulan-bulanan para preman

Saya sendiri tidak setuju dengan istilah uang keamanan

Karena pada kenyataannya bukan preman yang memberi keamanan

Justru sebaliknya, premanlah yang menjadikan semuanya tidak aman

Omong kosong dengan keamanan ala preman

Arif kecil pun mendengar berita itu juga pada akhirnya

Bahwa ayahnya yang ia cintai dibunuh secara menenaskan oleh preman

Esok hari setelah jenazah ayahnya dikebumikan

Arif kecil pun mendatangi markas tempat para preman pasar itu berkumpul

Dengan bermodalkan pisau dapur, Arif kecil pun berteriak lantang ke arah mereka

“siapa yang membunuh ayah saya?”

“gue, terus kenapa?” jawab salah seorang yang dianggap sebagai kepala preman

disambut gelak tawa anggota preman lainnya

Tanpa ba bi bu, Arif kecil pun meloncat sambil menghunuskan pisau dapur

Ke arah sang kepala preman berbadan besar itu

Tikamannya tepat mengenai ulu hati sang preman

Seketika sang preman pun ambruk

Selesai membunuh kepala preman, Arif pun pulang ke rumahnya

Kemudian, esok harinya rumah Arif didatangi oleh pihak berwajib

Arif pun digelandang ke kantor polisi

Suara kepala lapas kemudian memecah keheningan

“Arif ini sering bikin repot petugas disini”

Namun, justru sang kepala lapas malah berkata sambil tersenyum.

Lho, bikin repot kok kayak malah seneng gitu sih?

Ternyata, setelah dipenjara sejak dua tahun lalu

Arif kecil sudah tiga kali melarikan diri dari lapas

Dan dari cara melarikan dirinya pun tergolong ajaib

Ajaib karena dilakukan oleh anak kecil berusia delapan tahun

Oke, kita kupas satu persatu pelarian Arif kecil

Pelarian #1

Pelarian yang tidak dipikirkan oleh siapapun

Setiap pagi, sampah-sampah di lapas diangkut oleh kendaraan kebersihan

Sadar akan peluang kabur, Alif pun menyelinap kedalam salah satu kantung sampah

Badannya yang kecil tentu memudahkan hal itu

Hasilnya, bravo Arif keluar dari Lapas dengan selamat walau bau dimana-mana

Yap, 1-0 untuk Arif

Pelarian #2

Pelarian yang lebih kreatif dari pertama

Arif yang dasarnya memang doyan membaca ini pernah membaca sebuah artikel

Tentang fermentasi makanan tape

Dari artikel itu, Arif tahu bahwa tape mengandung udara panas yang bersifat destruktif

Terhadap benda-benda keras

Kebetulan, setiap dua kali seminggu, lapas selalu menyediakan tape

Sebagai makanan tambahan bagi penghuni lapas

Setiap terhidang tape, Arif selalu puasa, jatah tapenya pun ia simpan baik-baik

Setelah cukup banyak, jatah tape pun ia balurkan ke tembok lapas

Selang empat bulan, dinding yang dibaluri tape pun menjadi lunak

Seperti tanah liat saja, Arif pun berhasil membuat lubang untuk kabur

Yeay, 2-0 untuk Arif kecil

Pelarian #3

Pelarian ini bisa dijuluki sebagai pelarian paling mission immposible banget

Layaknya Ethan Hunt, ia beraksi benar-benar diluar dugaan

Sadar akan adanya besi di ember bisa dipakai untuk membuka gembok

Arif pun berupaya menyembunyikan besi itu

Agaknya, sadar akan pengawasan yang lebih ketat oleh petugas lapas terhadap dirinya

Arif pun tak berani menyimpan besi di selnya

Ia pun menyelinap ke ruang kepala lapas

Entah bagaimana caranya ia menyelinap

Namanya juga Ethan kecil, eh Alif kecil

Arif sadar, semua bagian lapas pasti selalu diawasi oleh petugas

Kecuali satu tempat, ruang kepala lapas

Arif pun menyembunyikan besi itu di ruangan kepala lapas

Esok malamnya, ia bisa keluar lapas menggunakan besi pegangan ember

Ia membuka gembok lapas satu per Satu

Yap, telak sekali 3-0 untuk Arif kecil

Lantas, bagaimana ceritanya Arif bisa tertangkap?

Ternyata, sepandai-pandainya Arif kabur dari lapas

Tujuannya tetap sama, pulang ke rumah

Ia kangen dengan ibunya

Tak ayal, petugas lapas pun dengan mudahnya mencari Arif

Ketika sudah berhasil kabur,

Tujuannya jelas, pasti rumah

Arif menaiki apa saja untuk bisa pulang ke rumah

Numpang mobil atau bahkan berjalan kaki puluhan kilometer pernah dijalaninya

Tujuannya hanya satu, menemui ibu tercintanya

Arif yang masih sangat kecil ini kangen sekali dengan ibundanya

Pada pelariannya yang ketiga

Kepala sipir yang juga merupakan seorang ibu pun

Tak langsung menginstruksikan kepada pegawainya untuk mencari arif di rumahnya

Ia memberikan waktu bagi Arif berada dirumah

Dua hari kemudian Arif kembali lagi bersama petugas Lapas

Ia membawa sepucuk surat

Surat itupun ia berikan kepada ibu kepala lapas

“Ibu kepala, Arif minta maaf. Tapi Arif kangen banget sama ibu”

tulis Arif singkat

Seorang anak cerdas yang harus terkungkung di dalam penjara

Terlepas kesalahannya membunuh kepala preman

Ia adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya

Ia merupakan korban keadaan yang harus menanggung beban sangat berat

Keadilan di dunia memang sangat semu

Keadilan bisa sangat tajam kepada orang-orang lemah

Tapi, tumpul pada orang-orang kuat

Banyak sekali kisah-kisah keadilan semu yang memilukan di dunia ini

Karenanya memang keadilan yang hakiki itu di hari pembalasan

Hari dimana semua amal manusia dihitung

Sedangkan keadilan versi manusia pasti tak pernah ada yang sempurna

Manusia yang paling adil di dunia adalah yang berkata:

Wahai manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena mereka menerapkan hukum secara ‘tebang pilih’. Ketika yang mencuri itu dari kalangan terhormat, mereka membiarkannya. Namun, jika yang mencuri itu dari kalangan lemah (rakyat jelata), mereka menerapkan hukuman atas mereka. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, bahkan seandainya Fathimah anak kesayangan Muhammad mencuri, pasti Muhammad akan memotong tangannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sebuah tulisan yang ditutur kembali dari akun facebook Indonesia Defence berjudul

 



Imagesumber gambar

 

Semalam, saya bertemu dengan seorang guru, sahabat, sekaligus kakak

Beliau pindah tugas dari Jakarta menuju sebuah daerah di pulau sumatera

Kami sudah lama sekali tak bertemu, semenjak beliau pindah

Selalu saja nggak bisa ketemu karena banyak hal,

 

Misalnya saat lebaran, ketika beliau ke bekasi saya ke klaten

Begitu terus sampai hari kemarin, Alhamdulillah Allah mempertemukan kami

Akhirnya, senang rasanya bertemu beliau lagi

 

Baiklah, beliau adalah salah satu senior saya di kampus, memang cukup jauh jaraknya

Kami berkenalan karena sama-sama berada di kompleks yang sama

Dan sama-sama sering I’tikaf di masjid ketika ramadhan datang

Setelah itu saya banyak berinteraksi dengan beliau

Kesamaan almamater membuat kami mudah akrab

 

Hingga sekitar beberapa bulan lalu dipindah di salah satu kota di sumatera

Kali ini menjabat lagi sebagai kepala seksi

Karena panggilan tugas lah, beliau memboyong seluruh keluarganya

 

Beliau sudah 10 tahun belum dikarunia anak

Antara februari 1998 sampai dengan Juli 2008

Kala saya pertama kali berkanalan

Namun, atas izin Allah, beliau dikaruniai anak juga

Anak pertama bernama hanzholah GM (begitu yang tertulis di akta kelahirannya)

Ghosilul Malaikah

 

nama seorang pengantin baru yang

Saat baru selesai berkumpul dengan istrinya, ada panggilan perang datang

Hanz pun pergi memenuhi seruan itu, kemudian ia syahid dalam

Keadaan masih hadast besar

Lalu, malaikat lah yang memandikannya

Subhanallah, pantas namanya GM, Ghosilul Malaikah

Yang berarti : yang dimandikan malaikat

 

Tak lama setelah hanz lahir, istrinya mengandung anak kedua

Semua normal, tanpa proses inseminasi atau bayi tabung

Skenario Allah begitu indah, inseminasi pertama gagal, tahun 2007

Namun justru saat ia memasrahkan semua pada Allah, hamillah istrinya

 

Kini hanz sudah punya dua adik lagi,

Bahkan ibunya sudah hamil 7 bulan

Kini, dirumahnya sudah ada tiga anak

Ditambah calon bayi satu lagi, betapa ramainya rumah keluarga ini sekarang

 

Saya merasakan sendiri ketika tadi malam bertandang ke rumahnya di bekasi

Betapa ramainya rumah itu dengan tiga anak kecil

Dua sudah cukup besar untuk mengusili saya

Sedangkan yang satu masih belum keluar hasrat untuk menjahili saya

Hehe

 

Dari keluarga beliau, kita belajar tentang kesabaran

Sabar menanti datangnya anak adalah upaya paling dicintai Allah

Karena dengan itu, Allah masih ingin mendengar rintihan kita disetiap do’a

Yang kita panjatkan dikesunyian malam

Ia ingin kita berusaha lebih keras lewat sedekah kita, ikhtiar kita

Secara medis dan tentunya agar keimanan kita terus bertambah

 

Saya tak ada apa-apanya dibanding dirinya

Belum genap usia pernikahan kami tiga tahun