Just another WordPress.com site

Category Archives: sabar dan syukur


IMG_20140824_093532

menikah adalah suatu perjanjian berat
menikah adalah perjanjian berat yang hanya disebut tiga kali
salah satunya adalah perjanjian yang berat bernama pernikahan
di usia saya yang almost 30
saya dapati banyak sekali perubahan yang terjadi semenjak menikah lebih dari 4 tahun yang lalu
kini, giliran salah satu teman terbaik saya yang menikah
saat yang lain sudah banyak yang sibuk dengan urusan masing-masing
ia dengan sabar menunggu kakaknya menikah
memang itu nggak ada syariatnya dalam islam
memang itu suatu hal yang berat
tapi ia mampu
mampu meluluhkan egonya
mampu menahan diri
demi menuruti permintaan orang tua
agar menikah setelah kakaknya menikah
sebuah ketaatan yang luar biasa kepada orang tua
meski berat, asalkan permintaan itu bukanlah permintaan untuk berbuat maksiat
sahabat, terima kasih
mengajarkan padaku tentang kesabaran
meski kau tahu, itu berat untukmu
ketika teman-temanmu sudah banyak yang menggendong anak
bahkan sampai sudah dua anak
atau bahkan tiga anak
semoga segera dikaruniai keturunan yang akan menlanjutkan perjuangan
semoga lahir dari rahim istrimu anak-anak yang sehat dan kuat
yang berjuang menegakkan Dienul Islam
seperti yang kau ajarkan padaku tentang kehidupan
Advertisements


 

i_have_a_dream_by_setobuje-1

Mohon maaf saya baru posting lagi hari ini

memang saya cukup kesulitan menggali kisah hikmah yang berasal dari diri sendiri dan kawan dekat

tapi tak ada salahnya saya mengambil kisah dari artikel di internet

yang benar-benar berhikmah

kali ini saya menyoroti perjuangan para jilbaber di era 1980-an

negeri yang mayoritas muslim ini memang ternyata masih harus banyak belajar

belaJar tentang Islam dan syariatnya

buktinya ketika Jilbab disamakan dengan PKI oleh sebagian kalangan

bagaimana perasaan para pendahulu kita itu ya?

Subhanallah, saat ini semakin mudah kita menjalankan syariat Jilbab

kita perlu banyak-banyak bersyukur atas nikmat ini

kisah ini benar-benar membuat kita merenung akan nikmat kebebasan berjilbab

Memoar Perjuangan Jilbab era ’80-an
Kisah jilbab: Ami Fidiyanti, SMA N 28 Jakarta

Kulihat dari ujung kacamataku, teman-teman ikhwan membagi-bagikan jilbab pada teman-teman perempuanku. “Ayo dong pake, nih udah dibawain! Pake’ deh, jadi tambah cakep loh!” ucap mereka dengan semangatnya. Tentu saja kubersyukur. “Ah, teman-teman makasih ya udah ngeringanin tugas akhwat untuk merayu mereka.” Kadang kalau dipikirkan lucu juga teman-teman perempuan itu, mereka nggak kuat kalau yang ngerayu itu ikhwan. Ikhwannya sih seneng-seneng aja, begitu juga dengan teman-teman perempuanku itu yang rela didandanin meng-akhwat. Ya, begitulah yang kami lakukan saat pelajaran agama Islam. Pak Guru membolehkan kami belajar tanpa lepas jilbab maka kami memanfaatkan untuk ‘menjilbabi’ seluruh siswi yang ada di kelas dengan cara memodali mereka jilbab dan peniti. Perbuatan dramatis itu jelas mendapat teguran dari sekolah yang diarahkan ke Pak Guru Agama.

Teguran itu sebenarnya berawal dari sikap kami yang mulai berjilbab di sekolah yang komunitasnya tak pernah berhenti sejak kemunculannya pada 1983 di sekolah tercinta ini. Persoalan jilbab di sekolah negeri mulai ada sejak era ’80-an. Kisahnya selalu klasik yang diakhiri dengan keluarnya siswi tersebut secara sukarela. Hal itulah yang dialami oleh kakak kelas pada angkatan ’83-’85. Tahun-tahun awal itu saat-saat yang berat bagi jilbaber. Apalagi kepengurusan Rohis belum berjalan baik, masih individual dan pengajian di sekolah belum ada. Belum ada komunikasi di antara jilbaber karena jumlahnya masih minim, untuk angkatan ’83 hanya satu orang. Saat itu ia dimusuhi oleh guru bahkan sempat melompat pagar sekolah ketika dikejar-kejar guru karena memakai jilbab terus di sekolah. Akhirnya seperti siswi SMA lain pada umumnya, ia memilih keluar untuk menjaga aqidah Islamiyah. Untuk sesaat, sekolahku ini menjadi kawasan bebas jilbab.

Keberadaan jilbab mulai ‘welcome’ saat jilbaber menurut peraturan sekolah untuk bongkar pasang beberapa tahun setelah peristiwa itu. Wakasek yang kebetulan non-muslim tetap menentang keberadaan kami, sedangkan Kepsek, alhamdulillah tidak terlalu menentang. Ia melihat siswi-siswi berjilbab di SMA tetangga kami (SMA 26) banyak yang membuat harum nama sekolah dengan prestasinya dalam lomba-lomba bidang studi. Di sini, kami memang low profile, hanya ikhwannya yang menonjol sehingga citra jilbab belum terbangun. Walau demikian, para guru cukup toleran dengan memperbolehkan kami membuka jilbab setelah tiba di dalam sekolah. Hal itu tidak bisa kami lakukans etiap saat sebab Wakasek tercinta itu sudah menunggu kami dengan setia di pintu pagar, “Ayo dibuka jilbabnya!” ujarnya tanpa memandang bagaimana perasaan kami ‘digunduli’ di jalan raya yang cukup ramai. Ya, apa boleh buat, kami terpaksa buka jilbab di situ. Alhamdulillah, ia tidak tiap pagi nongkrongin kami. Selamat dari ujian pertama, melangkah pada ujian kedua. Guru BP kadang ngecek siswa, dari baju yang kependekan, sampai… yang kepanjangan. “Kalau ada yang kepanjangan, saya gunting!” katanya. Ah, ujian itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan para sahabat, seperti Bilal atau Amar bin Yassir yang kehilangan kedua orangtuanya.

Kami menyadari bahwa kami berbeda dengan teman-teman yang lain. Jilbab-jilbab yang melambai bahkan ada yang super lebar sampai menyentuh ujung sepatu sempat diprotes sekolah. Yang membuat kami sedih bahkan cenderung stress, yaitu jam olahraga. Olahraga berarti olah jiwa bagi kami. Masya Allah, kami harus pamer aurat, bukan hanya sekadar buka aurat saja. Untuk membayangkannya saja ngeri rasanya, tapi itulah yang terjadi pada tahun 1990. Pada jam olahraga itu kami harus lari keluar dari sekolah. Rute yang ditempuh ialah sekolah-lapangan Palapa PP. Sekolah kami berada pas di pinggir jalan raya. Manusia dan mobil berseliweran setiap detiknya, dan mereka dengan enaknya dapat memandang kami. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kalau ‘gundul’ hanya baju olahraga saja, tanpa kerudung kepala, kami tetap harus berlari. Hanya dengan pakaian dan celana selutut saja sudah begitu menyiksa kami, ditambah lagi harus berkeliling di jalan raya. Tampang kami yang culun dengan rambut diikat kuda tentu kentara bedanya dengan siswi yang tidak berjilbab, seolah-olah orang-orang di jalan mengatakan, “Itu tuh siswi yang pake jilbab!” “Ya Allah, kuatkan hamba.”

Allahu Akbar! Kami mampu melakukan ‘kucing-kucingan’. Setelah keluar dari pintu gerbang, kami mencari mobil yang diparkir, lalu di balik mobil itu, kami mengenakan jilbab dan… berlari. Sampai di daerah Palapa, dengan lambat-lambat, tanganku bergerak ke atas membuka jilbab. “Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Kami sadari kami tidak kaffah, tapi itulah yang mampu kami lakukan saat ini. Ampuni kami ya Allah!”

Kapankah tibanya pertolongan-Mu, ya Allah?

Kapankah Kau kabulkan doa yang kami bisikkan dalam shalat-shalat panjang kami?

Subhanallah, titik terang itu mulai berpencar cahayanya. Saat itu pada 1990, ada musyawarah MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) se-Jaksel yang dihadiri beberapa SMA di antaranya SMA 6, 8, 28, 38, dan 70 yang membahas lokalisasi WTS. Topik yang berkenaan dengan moral itu menjadi momen yang pas untuk melempar isu jilbab dengan harapan jilbab diperbolehkan. Momen kedua menuai isu jilbab saat Pak Arif Rahman (Kepsek SMA Lab-School) berbicara di sekolah kami. Di depan para guru, Pak Arif menyatakan, “Jilbab itu bukan suatu ancaman, malah membuat anak jadi baik.” Allahu akbar! Kami melihat reaksi yang positif. “Ssst… wakepsek ngangguk-ngangguk, ibu BP juga ngangguk-ngangguk, wah ada harapan nih,” bisik teman sebelahku layaknya berdoa.

Doa adalah usaha yang tak pernah kami hentikan, ia selalu terucap dalam setiap detik langkah kami. Subhanallah, Depdikbud sebagai pihak yang berwenang mendengar aspirasi kami (setelah beberapa kasus jilbab mencuat) dengan mengeluarkan SK 100 tahun 1991. Kami bersyukur, dan memang selayaknya bersyukur. Sujud syukur pun dilakukan serentak di Masjid al-Azhar pada Januari 1991. Mendengar kabarnya saja, hanya air mata yang menjadi saksi. Kami tak bisa membendung tangis ini. alhamdulillah wa syukurilah. Sementara itu, kami masih bingung, apakah sudah boleh mengenakan jilbab atau belum karena kami tak mempunyai SK tersebut. Kepsek yang baru hanya menyatakan, “Saya tidak melarang, juga tidak menyuruh,” tetapi guru BP tetap patroli seperti dulu.

Sujud syukur di Masjid al-Azhar dihadiri oleh ratusan muslimah dan subhanallah, aku… adalah salah satu di antaranya. Ternyata, yang berjuang menegakkan syari’at Allah itu bukan hanya aku, banyak sekali jumlahnya, belum lagi di daerah yang tidak sempat menghadiri acara itu. Usai acara di pagi itu, tugas baru menunggu, yaitu memberitahukan kepada teman-teman di sekolah bahwa futuh jilbab sudah benar-benar terjadi. Kami juga harus menentukan apakah mulai hari ini mengenakan jilbab di sekolah, kami bingung. Ya Allah, apakah kami belum siap dengan futuh jilbab? Apakah terlalu singkat perjuangan kami sehingga kami belum bisa menghayati perjuangan kakak-kakak kami dahulu? Akhirnya kami menunda memakai jilbab pada hari bersejarah itu.

Pada masa transisi itu, para ikhwan mengadakan negosiasi dengan sekolah. Mereka meminta akhwat bersabar. “Aduh akhi, bagaimana mau kompromi lagi, ini kan aurat, yang malu kan kita-kita ini para akhwat,” keluh akhwat. Alhamdulillah pada pelajaran olahraga, jilbab boleh dikenakan. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, guru BP memanggil semua jilbaber dari kelas I, II, dan III untuk briefing. Kami, sekitar 40-50 orang sudah mempersiapkan argumen, memilih jubir, tetapi kami tidak sanggup bicara, semuanya menangis duluan. Guru BP memulainya dengan menyentuh jiwa bahwa kewajiban sekolah ini untuk orangtua. Ia memainkan emosi yang terdalam, tentang bakti kami kepada orangtua. Wakasek juga mengingatkan bahwa sikap keras kami tak ubahnya seperti gerakan PKI yang laten. Kami memang menentang peraturan pemerintah, kami menentang sekolah, tapi masya Allah, kami…. Kami juga menentang orangtua, termasuk aku. “Ya Allah, bagaimana kami bisa bicara, kalau kami langsung diingatkan kepada orangtua kami di rumah. Kubayangi bapak dan ibu yang kecewa terhadap sulungnya.”

Aku adalah anak sulung yang dicita-citakan menjadi wanita karir. Ternyata aku lebih cepat diizinkan meraih hidayah-Mu. Aku mengenal jilbab saat SMP kelas III. Aku sempat nyantri saat liburan, yang setiap ustadz datang mengajar, ia selalu mengatakan, “Pakaiannya harus pakaian muslimah!” Kulihat juga keagungan wanita berjilbab. Simpatiku pada jilbab sampai pada tahap identifikasi, sayang ortu tak mengizinkan. Setelah itu, hari-hariku berjalan biasa sampai aku diterima di SMA Negeri 28 Jaksel ini. keahlian menari Jawa mengantarkanku masuk nominasi AFS. Saat tes akhir AFS, aku berada pada garis kebimbangan setelah membaca artikel tentang seorang wanita Barat yang masuk Islam dan memilih hijrah ke Mesir. “Lho kok, kenapa aku, wanita Islam malah mau hijrah ke Amerika?” konflik batin terjadi. Aku teruskan niatku di AFS karena aku tertantang ucapan Bapak yang mengizinkanku berjilbab jika lulus AFS. Ternyata aku gagal.

Sementara itu, Bapak terus mencari kebenaran tentang jilbab kepada seorang ulama terkenal yang baru saja pulang dari Amerika, yang kebetulan tetanggaku. Bapak mendapat pertimbangan bahwa jilbab itu dosa kecil yang diampuni. Astaghfirullah! Kuhiraukan argumen ulama tersebut, aku putuskan pake jilbab saat daftar ulang kelas II. Ortu meradang, katanya, “Ini sekali, apa diterusin?” aku disidang. “Benazir Bhuto saja nggak begitu, Pak itu aja yang ulama keluarganya tidak berjilbab,” tegas Bapak. Aku tetap pada sikapku. Bapak jatuh sakit. Akhirnya aku backstreet, berangkat dari rumah ke sekolah melewati jalan yang sepi lalu pake di sana sampai sekolah.

Hal itu kulakukan selama seminggu di kelas II. “Ya Allah, aku mampu membohongi ortu, tapi… aku tidak mampu membohongi diri sendiri.” Bismillah, aku beranikan diriku pulang dengan memakai jilbab sampai depan rumah. Jilbabku langsung direnggut saat itu juga, aku hanya menatapnya lalu masuk kamar dan mengadu pada Allah. Aku menangis. Bapak mengancamku, “Kalau kamu pake lagi, semua bajumu akan diambil.” Aku mencoba istiqomah dengan mencuci dan menjemur baju sendiri. Herannya, semuanya hilang. Ketika hal ini kuceritakan kepada akhwat di sekolah, mereka malah menertawakanku, “Masa di rumah sendiri hilang,” kata mereka. “Iya… ya, lucu juga.” Walhasil, aku kehabisan baju dan jilbab.

Subhanallah, aku tak pernah membayangkan pertolongan Allah datang kepadaku. Saat aku benar-benar kehabisan sandang untuk sekolah, aku mencoba mengambilnya dari kamar ortu. Kuharap bapak tidak membakar baju dan jilbabku seperti janjinya. Aku tidak tahu bagaimana badanku bisa mengecil sehingga mampu masuk kamar yang terkunci itu. Aku hanya melepas satu buah nako dan melewatinya dengan mudah. Badanku memang kurus, tapi melewati jendela nako yang kulepas satu, aku tak bisa membayangkannya. Allahu akbar. Kudapati di atas lemari, semua baju yang kubutuhkan. Bluur… akhirnya aku ambil dua buah untuk menepis kecurigaan.

Semenjak memakai jilbab dan menentang aturan ortu, aku disisihkan dan tersisih dari keluarga besar. Aku seperti disembunyikan di dalam rumah saja, mereka malu mengajakku karena berjilbab. Itu tidak mengapa, tapi… ternyata Bapak menahan SPP-ku selama satu semester. Alhamdulillah ada om-ku yang membayarkannya tanpa sepengetahuannya. Aku tetap mencoba untuk berkomunikasi, aku katakan kepada Bapak, “Walaupun aku tidak nurut pada Bapak, tapi aku tetap anak Bapak.” Bapak memenuhi permintaanku hingga Bapak kembali membayar SPP. Sikap Bapak tetap tidak berubah.

Tekanan dari sekolah dan terlebih dari rumah membuatku selalu berpikir. Aku terkena sakit kepala yang amat sangat, stress, high tension, dan harus berobat ke bagian neurologi RSCM sendirian. Aku masuk EEG sendirian, dan aku menangis sendirian saat kartu berobatku hilang. Hasil EEG menyatakan bahwa aku tidak ada kelainan, hanya tension headache ‘tekanan psikis’. Hal itu terjadi karena kejadian berat selama dua tahun setelah berjilbab. Aku bertambah stress menjelang UMPTN. UMPTN adalah penetuan, kalau tidak lulus maka aku makin tersisih bahkan dalam keluarga besarku.

Pada saat libur lebaran, kami pulang kampung ke Solo. Ibu mencoba mengobati dengan membawaku ke pengobatan tradisional, macam pijat refleksi. Mungkin ibu kasihan melihatku jika datang pusing yang amat sangat. Aku mengaduh di kamar sampai tetangga sebelah mendengar erangan sakitku. Orangtua itu memengang kakiku, bertanya, “Keras amat sih mbak, mendem apa?” Saya menangis nahan sakit. Ibu menjelaskan, “Iya, dia mau pake jilbab, tapi nggak boleh cerita-cerita apalagi sama Om-nya yang deket, walau tinggalnya jauh dari kami.” Bapak itu juga cerita bahwa anaknya yang kuliah di UNS bahkan bercadar, dan tetap pada pendiriannya. Terus ibu bilang, “Kalau kamu mau pake jilbab, terserah!” Terserah… kata itu yang sebenarnya aku tunggu selama dua tahun dari orangtua yang melahirkanku. Subhanallah ibu ridha. Tiga pekan aku di kampung, penyakitku hilang. Aku mengikuti UMPTN dengan baik dan alhamdulillah aku diterima di PTN favorit pada 1992.

Bila kukenang perjuangan kecilku, ternyata tidak sia-sia. Perlahan, satu persatu adik-adikku ikut mengenakan jilbab. Kenikmatan ini memang terlambat dibanding dengan kenikmatan di sekolah. Sekolah tak melarang lagi setelah SK jilbab ’91 diputuskan dan disosialisasikan. Jumlah dari kami dari 40-an bertambah menjadi 150-an jilbaber. Aktivitas mendandani siswi untuk mengakhwat terus berlanjut walau bahkan setelah pelajaran Agama usai. Hanya guru non-muslim yang menyindir, “Coba ya, dirapikan pakaiannya.” Aktivitas Rohis juga semakin baik. Pak guru Agama ditunjuk menjadi PJ Tafakur Alam SMA se-Jaksel. Rohis sendiri melakukan konsolidasi dengan membina seluruh anggotanya secara kontinu dengan bantuan alumni sampai mereka menjadi alumni. Pihak sekolah mendukung dengan cara mewajibkan acara Rohis, seperti Studi Islam Ramadhan, bahkan masuk rapor. “Tak lepas-lepasnya lidah ini mengucap tahmid pada-Mu, ya Allah.”

buku Revolusi Jilbab karya Alwi Alatas dan Fifrida Desliyanti, bertepatan dengan Hari Hijab Internasional (4 September)

Semoga menjadi pelajaran kita semua



 

774733_294087327380015_2118401008_o

Barusan saya bertemu dengan kakak kelas di kampus dulu

Dan sekarang beliau sekantor dengan istri saya

Mas Rudi namanya, ia bersama tiga anaknya yang masih kecil-kecil

Kisaran usianya SD kelas 2, TK dan belum sekolah

 

Hal yang membuat saya kagum dengan beliau adalah

Membawa tiga anak sekaligus ke masjid bukanlah urusan mudah

Pastinya banyak sekali kesulitan yang ia hadapi

Tapi, dari wajah anak-anak itu saya tak melihat adanya keterpaksaan

Sama halnya seperti anak lain yang diajak pergi ke Mall

 

Apa ya sebenarnya rahasia beliau sehingga anak-anak bisa ke masjid dengan wajah ceria?

Seperti tak ada paksaan apa pun

Mereka begitu kecil, tapi tak memandang masjid sebagai tempat yang membosankan

Tempat yang tidak menarik

Sebelumnya, saya juga melihat seorang teman datang juga dengan anak-anaknya

Entahlah jumlahnya berapa, yang jelas dua atau lebih

Beliau juga berhasil mengajak anak-anaknya ke masjid dengan keceriaan

Bukan sesuatu yang membosankan datang ke masjid

 

Satu lagi, seorang tetangga yang hampir selalu mengajak anak perempuannya

Yang masih usia kisaran satu sampai dua tahun

Masih kecil sekali, tapi sudah diajak ke masjid

Luar biasa, anak ini jarang sekali menangis ketika ayahnya sholat

 

Kira-kira apa ya rahasia mereka sehingga anak-anaknya terbiasa ke masjid?

 

Agaknya, saya melihat syarat utamanya adalah sang ayah haruslah seorang yang sering pergi ke masjid. Mana mungkin anak-anaknya mau ke masjid dengan sendirinya sedangkan ayahnya malah santai-santai dirumah sambil nonton tivi. Tauladan yang baik dari sang ayah. Ingat, wajib hukumnya seorang laki-laki sholat lima waktu di masjid.

 

Syarat berikutnya bisa jadi adalah karena pandainya sang ayah dan bunda memotivasi si anak agar ikut ayah ke masjid. Bisa jadi awalnya sang anak ogah-ogahan namun lama kelamaan sang anak akan menikmati suasana di masjid. Mula-mula mungkin ia hanya akan bermain-main atau bahkan mengganggun sang ayah atau jama’ah lain. Tapi perlahan ia akan mengerti.

 

Ketiga, suasana masjid yang mendukung. Masjid Al Muhajirin di dekat rumah saya adalah masjid yang ber-AC, hanya beberapa masjid yang memasang AC disekitar rumah saya. AC jadi daya tarik bagi anak-anak untuk memilih masjid Al Muhajirin. Suasana yang nyaman dan sejuk rupanya jadi pilihan mereka. Padahal dua teman saya tadi tinggalnya di kompleks lain. Tapi berdasarkan keterangan mereka, anak-anak mau ke masjid yang ada AC-nya.

 

Keempat, tentu saja jama’ah masjid juga berpengaruh. Toleransi kepada anak-anak yang dibawa ke masjid harus di kedepankan, karena anak-anak biasanya akan membuat sedikit “masalah” dimasjid seperti berlari-larian di depan orang sholat atau berteriak-teriak yang mengganggun jama’ah. Itulah pentingnya toleransi dari jama’ah, bukan malah membentak-bentak mereka untuk diam. Perilaku jama’ah yang memarahi anak-anak akan menimbulkan trauma dari anak-anak akan masjid itu sendiri. Oleh sebab itu, toleransi sangat diperlukan agar anak-anak betah di masjid.

 

Mungkin, itu beberapa analisa saya. Saya sendiri belum pernah mengalaminya. Insya Allah, jika Allah berkenan, beberapa bulan lagi saya akan menimang bayi. Saya bertekad untuk sering membawanya ke masjid kelak jika ia sudah usia 1-2 tahun, insya Allah. Laki-laki atau perempuan tak masalah. Walaupun memang, perempuan tidak wajib ke masjid tapi agar sang anak terbiasa dengan suasana masjid tentu hal itu sah-sah saja.

 

NB: Saya tambahkan gambar ilustrasi kartun Muslim Show yang sedang happening di facebook. Betapa tak terkira rasanya perasaan orang tua menyaksikan anaknya bersujud. Subhanallah.



Image

sumber gambar

 

hari-hari terakhir ini media nasional ramai-ramai membully PKS

partai yang selama ini menjadi harapan saya

harapan untuk mengubah bangsa ini

saya memang dekat dengan banyak kader partai ini

terutama di lingkungan saya tinggal

saya ikut juga menimba ilmu agama dengan mereka

kalau dibilang PNS nggak boleh ber partai

ya saya nggak berpartai,

saya bukan anggota partai

saya adalah fans berat partai ini

saya mempunyai perasaan yang sama dengan kader-kader partai ini

jadi mereka adalah saudara seiman

saya turut dibimbing menata hidup oleh kader partai ini

hingga kini, saya bisa lebih dekat dengan Allah

entah, jika taka da kader partai ini yang menarik saya ikut pengajian

mungkin saya sampai sekarang masih begajulan

jadi ketika hari-hari ini masyarakat banyak menghujat partai ini

perih rasa hati ini, pilu sekali

jalan kepartaian yang banyak dihindari orang banyak

memang menuntut para pengusung PKS tabah

melebarkan hati untuk menerima setiap hinaan, cacian, makian, dan fitnah

presiden LHI menjadi tersangka kasus korupsi impor daging sapi

padahal, beliau tidak ditangkap tangan

entah bukti apa yang di miliki oleh KPK

yang jelas, semua terkesan tiba-tiba sekali

beda sekali dengan kasus yang menimpa Andi mallarangeng dan Anas Urbaningrum

Apalagi terhadap para tersangka kasus Bank Century

Miris rasanya

Mungkin, karena kasus ini menimpa PKS

Masyarakat makin ramai mencela partai ini

Mereka anggap, jika kesalahan itu menimpa PKS

Maka aib luar biasa

Saya jadi teringat dengan kisah tahun 2004 lalu

Saya ambil tujuan utama “ Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad”

Biasanya orang komunikasi ya jadi PR-nya perusahaan-perusahaan

Atau banyak juga yang jadi wartawan

Jurusan itu saya pilih karena saya merasa suka dengan yang namanya berkomunikasi

Jadi organizer suatu acara itu seru sekali

Saya betul-betul menikmatinya

Jadi, jatuhlah pilihan saya pada Ilmu Komunikasi Unpad

Singkat cerita saya lulus SPMB dan diterima di Ilkom unpad

Esok harinya saya diterima juga di Spesialisasi Kebendaharaan Negara STAN

Saya yang sudah tenang diterima di Unpad jadi malah galau

Bingung pilih mana, banyak yang menyarankan saya untuk masuk STAN saja

Saya makin bingung, hati kecil saya masih condong di unpad

Akhirnya, bude saya memberi masukan

“Kamu ngapain kuliah komunikasi?

Paling juga nanti jadi wartawan kan?”

Saya hanya diam tanda tak setuju

Siapa bilang wartawan profesi yang nggak baik?

Siapa bilang wartawan profesi yang nggak terpandang?

Namun, seiring berjalannya waktu

Dan melihat kondisi saat ini

Saya jadi mulai paham

Bukan maksud dari wartawan itu jelek

Tapi memang jadi wartawan itu sangat berat

Sungguh berat

Beberapa hari ini isu dugaan korupsi daging sapi

Yang melibatkan presiden PKS membuat saya miris

Betapa media berperan sekali membentuk opini publik

Mereka dengan mudahnya memberitakan sesuatu

Bahkan menghakimi orang dengan tuduhan-tuduhan yang

Tidak benar atau barangkali belum diketahui kebenarannya

Betapa lisan yang telah terlontar

Tak akan bisa ditarik kembali

Seperti paku yang ketika sudah ditancapkan ke kayu

Tak akan bisa membuat kondisi paku itu seperti sedia kala

Pasti ada bekas pakunya disana

Media,

Memberitakan banyak berita yang tidak akurat dan tendensius

Disebut LHI tertangkap tangan lah, bersama wanita bernama M lah

Padahal LHI tidak tertangkap tangan, apalagi bersama wanita bukan muhrim

Di kamar hotel

Sudah jelas berita itu salah,

Media bukannya segera membuat pernyataan maaf

Dan membuat ralatnya

Malah membiarkannya, seolah tak terjadi apa-apa

Kemudian, tuduhan yang bilang korupsi segala macam

Lha wong belum terbukti

Kenapa sudah menghakimi seperti itu?

Masya Allah, pastinya akan menambah timbangan amal buruk bagi wartawan

Saya kini sadar, bude telah memberikan saran yang sangat baik bagi saya

Saya tidak jadi masuk Unpad, meski bukan hanya bude saya yang memberikan kontribusi saran

Namun, saat ini itulah yang saya lihat begitu bermanfaat

Saya tak menjadi wartawan, tak punya resiko keseleo memberitakan berita bohong, fitnah, adu domba

Alhamdulillah,

Terimakasihku pada bude di babar sari, jogja



tips-bahagia

sumber gambar

Kemarin sore saya mendapatkan pelajaran yang amat mahal

Setelah beberapa kali commuter line mengalami gangguan

Kemarin sore, commuter line kembali normal

Tak tampak lagi penumpukan penumpang di manggarai

Begitu sampai manggarai, tak berapa lama kereta datang

Saya pun naik dan benar kereta sudah normal

Tak terlalu padat penumpang di dalam

Saya pun bisa memilih tempat dimana saya bisa berdiri dengan nyaman

Sampai di jika tidak terlambat,

Saya pun tiba di rumah matahari masih menyisakan sinarnya

Tak berapa lama adzan maghrib berkumandang

Saya pun bersiap ke masjid

Jarang sekali saya bisa sholat maghrib berjama’ah

Di masjid dekat rumah

Kecuali hari-hari libur dan tidak sedang bepergian

Saya pun tersenyum

Diperjalanan saya memikirkan ini,

Ternyata bahagia itu sederhana saja

Pulang tepat waktu, kereta lancar dan bisa maghrib di masjid dekat rumah

Sayangnya, saya baru bisa merasakan itu setelah berkali-kali kereta mengalami

Gangguan persinyalan akibat cuaca buruk

Semoga kita lebih cepat bersyukur sehingga tak perlu kita menunggu di sentil Allah untuk merasakan kebahagiaan



 

semalam, saya berkunjung ke teman saya yang sedang diuji Allah

6 bulan sudah sejak kejadian itu, lama sekali

akhirnya, ia dibawa oleh keluarganya pulang ke bekasi

akhirnya, sejak seminggu di rumah, saya bisa menjenguknya

 

Alhamdulillah

 

Badannya kurus sekali, namun yang membuat saya terharu adalah senyumnya

Ketika aku datang, senyumnya mengembang

“Donny” sebutnya dengan suara yang parau

membuat hati ini teriris-iris

 

“tambah subur aja lo don” masya Allah, sempat-sempatnya dia perhatiin saya

 

Jabatan tangan ini lemah sekali,

Ya Allah berikanlah ia kesabaran untuk bisa melewati semua ujian ini

 

Wajahnya yang tampak tirus tidak menunjukkan perasaan tertekan

Tidak menunjukkan depresi, lelah, dan keputus asaan

Sebaliknya, ia justru amat berseri-seri wajahnya

Sebaliknya, justru saya yang sedih melihatnya

 

Kaki kanannya masih belum bisa sepenuhnya digerakkan

Itu karena operasi pada kaki kanannya

Semoga segera membaik dan bisa digerakkan lagi

Semoga bisa seperti sedia kala lagi

 

Kedatangan saya tampaknya membangkitkan memori-memorinya

Dan saya senang sekali mendengar responnya ketika saya bilang

“benk, inget nggak dulu waktu jaman-jaman lo nge band. Nyanyi lagu na•f, system of a down”

tujuan saya hanya mengembalikan ingatannya

tak diduga, ia semangat sekali mendengarkannya, lalu keluar dari mulutnya

“jikalau telah datang waktu yang dinanti

ku pasti bahagiakan dirimu seorang

 

kuharap dikau sabar menunggu

kuharap dikau sabar tuk menunggu ku

berilah daku waktu ‘tuk wujudkan semua

janji ini untukmu ku tak akan lupa”

 

Subhanallah, dengan suara lirihnya ia menyanyikan lagu itu dengan

Senyum yang terus melebar

 

Saya pun mencerna baik-baik lirik lagu itu

Saya menganggap itu adalah janji seorang benk2 kepada Allah

Bukan seperti kepada kekasih yang sering terjadi di sinetron

Janji ia untuk Allah

Janji untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, Insya Allah

 

Karena seperti yang bapaknya tuturkan

Bahwa, dengan akal sehat manusia, mustahil bagi benk2 untuk selamat

Mobil yang ia kendarai hancur berat

Dan, tubuh benk2 masih utuh dalam kondisi itu

 

Suatu mukjizat dari Allah telah ditunjukkan

Bahkan, saat kejadian, ada orang yang berkata

“terbelah jadi berapa itu sopirnya?”

menunjukkan betapa parahnya kondisi kendaraannya

 

tiga bulan lamanya, benk2 mengalami koma

tak terbayangkan bagaimana perasaan keluarganya

antara perasaan pasrah dan tekad untuk terus berusaha

Ya Allah, hamba pun belum tentu kuat menghadapi cobaan semacam itu

 

Dokter yang menanganinya pun memberikan pernyataan bahwa harapannya

Tipis, kalaupun selamat ia akan mengalami amnesia retrograde

Yaitu kondisi dimana ia tak akan mampu lagi mengingat kejadian dimasa lalu

Bahkan, bisa jadi ia tak tau siapa dia sebenarnya

 

Subhanallah, begitu cobaan yang dialami keluarganya

Tak terbayangkan bagaimana perasaan bapaknya saat mendengar penuturan

Dari dokter yang memberikan opininya

 

Perlahan, respon dari benk2 pasca koma pun terjadi

Matanya mulai melihat arah bapaknya bergerak

“saya miring ke kiri, dia ngelihat ke kiri. Saya miring ke kanan, dia melirik ke kanan”

sampai tiba saat tes memorinya dimulai,

ketika ditanya bapaknya, “ibu mana ibu?”

benk2 pun menunjuk ke arahnya

 

Alhamdulilllah, amnesia retrograde tidak terjadi padanya

Ia bisa mengingat siapa keluarganya

Namun, saat itu suaranya tidak keluar

Barangkali karena pita suaranya tertekan oleh selang selama tiga bulan lebih

 

Sekarang, tinggal masa pemulihannya,

Perlu asupan makanan bergizi tinggi

Termasuk makanan dengan DHA tinggi macam ikan salmon

Tapi, ternyata ikan salmon itu mahal sekali, sekilonya 200rb

Masya Allah

 

Padahal, bapaknya sudah pensiun dari profesi dosen

Ibunya pun dirumah,

Dua adiknya masih kuliah di IPB dan UNJ

Sejatinya, ia adalah tulang punggung keluarganya

Hingga kecelakaan itu terjadi

 

Sekarang tinggal berharap ia kembali pulih lagi seperti sedia kala

Jadi, saya berharap teman-teman yang mengenal Bambang Bayu Anggara

Baik teman SD, SMP Mutiara 17 Agustus Bekasi,

SMA 1 Bekasi dan ISTN Jakarta untuk datang kerumahnya, menjenguk dia

Senang pastinya ia didatangi teman-temannya

 

Karena kata-kata yang terucap darinya adalah

“terus dukung gw ya don”

ia butuh penyemangat hidup dari teman-temannya

 

terakhir yang ia tanyakan pada saya adalah

“sholat lancar don?”

tadinya saya agak bingung ditanya begitu, tapi

ternyata ia mencoba mengingatkan saya untuk terus menjaga sholat

Ya Allah, kuatkan sahabat hamba ini

 



 

Sudah lama juga saya tidak posting di blog ini. Subhanallah, semoga saja ini bukanlah tanda kefuturan diri ini.

 

Pagi itu saya datang ke sebuat tempat stel velg yang ada di dekat tempat tinggal saya di daerah bekasi. Sepeda motor istri saya sudah bermasalah dengan velg sejak beberapa minggu sebelumnya, namun baru sempat saya membawanya berobat.

Sebut saja namanya pak Rahmat, beliau adalah ahlinya stel velg di daerah saya. Namun, bukan dengan keahliannya menyetel velg sepeda motor yang ingin saya bicarakan karena soal keahlian biar ahlinya saja yang menjelaskan. Saya ingin menceritakan tentang senyumnya yang khas, seolah-oleh dengan senyuman itu membuat siapa saja yang bertemunya menjadi bahagia.

Sungguh, saya tidak tahu senyum macam apa itu. Namun, yang pasti senyum seperti itu bukanlah senyum yang dibuat-buat. Senyum alami yang menularkan virus kebaikan bagi siapa saja di sekitarnya.

Pak Rahmat seolah-oleh mengajarkan kepada kita untuk selalu ceria dan bersungguh-sungguh dengan apa yang kita kerjakan. Menjadi apapun kita, selayaknya kita bersyukur walaupun apa yang kita kerjakan ini pada kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Karena memang sangat sedikit orang yang melakukan sesuatu pekerjaan yang sesuai dengan apa yang ia inginkan.

Apakah menjadi ahli stel velg adalah cita-cita pak Rahmat? Jawabannya tentu saja tidak. Juga dengan orang-orang lain di sekitar kita. Atau bahkan kita sendiri merasa bahwa pekerjaan kita saat ini bukanlah sesuatu yang benar-benar kita inginkan.

Beruntunglah mereka yang bekerja sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Lalu bagaimana dengan yang lainnya yang pekerjaannya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan? Yap, segala sesuatu harus kita syukuri dan tetap bersungguh-sungguh mengerjakannya karena dengan pekerjaan itu segala kebutuhan hidup kita terpenuhi. Seperti apa yang telah dilakukan oleh pak Rahmat dalam menjalankan pekerjaannya.

Pak Rahmat tetap tersenyum ramah kepada para pelanggannya, bahkan dengan senyum itu membuat para pelanggannnya merasa bahagia. Ia tetap bersungguh-sungguh bekerja dan memberikan kemampuan terbaiknya dalam bekerja. Bukan malah meratapi nasip dan berhenti bekerja.

Bagi kita yang merasa apa yang menjadi pekerjaan kita saat ini bukanlah apa yang kita inginkan, ada baiknya kita melihat sekeliling. Melihat pak Rahmat dan yang lainnya, bahwa mereka tetap bekerja dengan kemampuan terbaiknya. Seberapapun membosankannya pekerjaan itu.