Just another WordPress.com site

Category Archives: Masyarakat


Image

Saya awalnya agak risih dengan istilah baru ini

Karena apa? Hal itu membuat saya menjadi segan untuk bertanya lebih jauh

Kepada teman kita tentang banyak hal

Nanti malah dibilang “kepo deh kamu” “mau tau aja apa mau tau banget?”

Wah, kalau sudah begini saya jadi mundur teratur

Padahal, sebagai seorang teman, saya merasa perlu mengetahui teman saya lebih dalam

Dimana rumahnya, sukunya apa, berapa bersaudara, siapa orang tuanya, dan lainnya

Karena apa? Jangan sampai kita banyak berinteraksi namun sebenarnya kita sendiri

Tidak tahu banyak hal tentang teman kita

Coba misalnya kita ditanya orang lain ketika teman kita kena musibah

“si fulan rumahnya dimana? Yuk kita jenguk”

lalu jawaban kita adalah

“wah aku nggak tau juga rumahnya dimana”

jeger!

“kamu temannya bukan sih? Perasaan sering kemana-mana bareng, rumahnya aja nggak tau”

terkadang memang kita perlu juga mengikuti perkembangan jaman

namun, nggak semuanya baik kan?

Nah istilah “kepo” membuat saya merasa risih

Sedikit-sedikit dibilang kepo

Orang yang tadinya mendekat, malah berubah menjauh

So, hati-hati ya kalau ngomong “kepo” ke temen kita

Bisa-bisa ia nanti bisa jadi mundur teratur dan nggak mau dekat lagi

 

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hak kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya ada lima. Pertama menjawab salam. Kedua menjenguk yang sakit. Ketiga mengantar jenazah. Keempat memenuhi undangan. Kelima mendo’akan orang yang bersin.” (Muttafaq ‘Alaih)

*Kepo merupakan kepanjangan dari  Knowing Every Particular Object

Advertisements


Imagesumber gambar

jadi gini, siang tadi saya ikutan rapat RW

awalnya aras-arasen juga mau dateng atau nggak

baru pulang mabit membuat metabolism tubuh agak terganggu

jadi lebih enak tidur

Alhamdulillah, masih ada waktu buat tidur dulu

Dan saya pun agak ringan berangkatrapat RW

Ternyata bahasan rapat sangat seru dan pas dengan pendapat saya

Pertama ngomongin masalah sampah,

Pas banget sampah di rumah dan tetangga-tetangga sudah menggunung

Jadi solusi apa yang bisa diberikan pihak RW?

Mula-mula kita tilik dulu masalah yang selama ini ada

Pertama karena hanya ada 3 mobil sampah untuk wilayah bekasi utara

Ditambah kondisi ketiga mobil itu pun sudah sakit-sakitan

Sehingga lebih sering mogok  daripada jalannya

Kedua, saat ini di bantar gerbang sedang longsor akibat hujan deras

Kamis dan jum’at lalu

Ada beberapa alternatif yang bisa diambil

Pertama tentu saja mendesak pihak developer untuk menyediakan tempat

Bagi pembuangan sampah sementara

Bahkan fasilitas yang di janjikan semisal waterboom saja masih belum ditunaikan

Apalagi ini yang tak ada dalam list janji mereka

Namun, kami sepakat bahwa TPS lebih penting ketimbang waterboom

Kedua, mencari TPS lain yang bisa digunakan

Sehingga dapat menampung sampah warga sementara waktu

Masalah sampah di rumah-rumah pun bisa teratasi

Namun, ini tentu saja mengakibatkan anggaran iuran warga jadi bertambah

Sampah, terlihat sepele namun ternyata sulit juga ditangani

Ini baru lingkup RT dan RW saja

Belum sampai ke kota atau Negara

Ternyata masya Allah ya ngurus orang dan permasalahannya itu berat

Makanya, Allah menjamin tempat bagi pemimpin yang adil dengan balasan Surga-Nya

Ijadl bin himar r.a berkata: saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: orang-orang ahli surga ada tiga macam: raja yang adil, mendapat taufiq hidayat ( dari allah). Dan orang belas kasih lunak hati pada sanak kerabat dan orang muslim. Dan orang miskin berkeluarga yang tetap menjaga kesopanan dan kehormatan diri. (muslim).



Foto030

 

 

 

Ahad, sejatinya adalah hari kita untuk bermanja-manja

namun, terkadang kita juga harus berkompromi dengan agenda lain

misalnya kondangan, kuliah pengganti, atau rapat RW

itu semua adalah dinamika hidup yang tidak akan pernah lepas dari lingkungan

bisa saja kita mengabaikan semuanya, tapi itu artinya kita telah melawan

kodrat kita sebagai manusia

 

jadi, sebagai manusia kita juga harus memberi ruang bagi dunia luar untuk

berinteraksi dengan kita dan jadwal-jadwal kita

jika kita tidak mau di cap sebagai manusia individualis

jika kita tidak mau jadi orang besar

karena orang besar, tidak akan berfikir aku tapi kita

 

barangkali enak ya, jika hari libur hanya diisi dengan ber malas-malasan di rumah

tapi apakah benar kita merasa enak?

apa tidak ada rasa bersalah jika kita tidak menghadiri undangan saudara kita?

bukankah, suatu kewajiban seorang muslim untuk menghadiri undangan

saudaranya?

 

bagaimana kita mau meninggalkan nama jika kita hanya memikirkan diri sendiri?

tanpa kontribusi yang bisa dikenang orang, kita tak akan meninggalkan nama

lihatlah, Buya Hamka, ia adalah tipikal orang yang berkarya bagi umat

sehingga, kita mengenal ia sampai hari ini

lihat pula peranan bung tomo bagi orang surabaya dan indonesia

apa ia tipikal orang yang mementingkan kata aku ketimbang kita?

 

dalam Islam pun, orang yang berjuang membela agama lebih baik

ketimbang orang yang seumur hidupnya hanya dihabiskan untuk beribadah

karena apa? karena berjuang itu untuk kita

sedangkan ibadah sholat, shoum, dzikir itu untuk aku sendiri

 

bagaimana dengan zakat?

Islam telah mengajari benar peranan kita ketimbang aku

karena kita punya kewajiban untuk membantu saudara yang kekurangan

dengan berzakat

mereka malah punya hak atas apa yang kita miliki

 

setiap apa yang kita miliki, sebagiannya adalah

milik fakir miskin

dan kita harus mengeluarkannya jika mau

apa yang kita punyai mengandung keberkahan

 

sungguh sayang jika hidup hanya memikirkan "aku"

tanpa mau berkorban untuk "kita"

hidup terlalu singat jika hanya mengandalkan amal ibadah diri sendiri

kita harus punya amal ibadah yang melibatkan orang banyak

sehingga daya ungkit kita akan semakin banyak dan otomatis

pahala yang mengalir pun banyak



 

Saya bukan fans berat jokowi

Namun, izinkan saya mengambil pelajaran dari beliau

 

Jokowi adalah orang yang membumi, rendah hati dan nggak neko-neko

Terlepas ini masalah perdebatan bahwa hal ini hanya pencitraan saja

Saya nggak mau membahas soal itu, kita ambil positifnya saja

Bahwa, rakyat mendambakan pemimpin yang mengayomi

Mereka mendamba pemimpin yang sederhana dan mudah bergaul dengan rakyat

 

Kita punya dua telinga dan satu mulut

Itu artinya, kita dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara

Begitu pula sebagai pemimpin, rakyat nggak mendambakan pemimpin yang doyan pidato berlama-lama

Apalagi pidatonya bukan sesuatu yang esensial

Rakyat mendamba pemimpin yang banyak mendengar

 

Kebiasaan Jokowi yang suka berkunjung ke pasar-pasar

Naik angkutan umum dan membaur dengan warga

Ternyata itulah tipe pemimpin yang mudah diterima rakyat

Bukan pemimpin yang terlihat berwibawa

Sehingga, rakyat pun susah menemuinya

 

Saya teringat Sirah Sahabat, Khalifah Umar bin Khatab yang berkeliling di malam hari

Mendengar keluhan rakyatnya hingga bertemu dengan sebuah rumah dimana ibu sedang menenangkan anaknya yang kelaparan

Ia pun merebus batu untuk menenangkan anaknya sampai tertidur

Singkat cerita, Khalifah Umar pun menggotong sendiri gandung untuk keluarga itu

Ia membawa sendiri gandum untuk rakyatnya, bukannya memerintahkan pelayannya

 

Khalifah Umar adalah contoh pemimpin yang banyak mendengar daripada bertitah

Berkeliling untuk mengetahui kondisi warganya

Mendengarkan keluhannya

Khalifah Umar adalah contoh pemimpin ideal kita

 

Dalam diri kita sendiri kita justru jauh dari sikap pemimpin seperti Umar

Padahal, kita belum juga menjadi pemimpin

Kita malah enggan menyapa tetangga kita yang kebetulan kita lewat di depan rumahnya

Kita justru memalingkan muka, seolah-olah tak melihat tetangga kita

Padahal, barangkali tetangga kita itu menunggu-nunggu sapaan kita

Bahagianya ketika kita menyapa mereka

 

Menyapa tetangga, terlihat mudah namun sulit dilakukan

Apalagi ketika tetangga kita orang yang bersifat pasif

Artinya, mau nyapa kalau disapa duluan

 

Bahkan ada pula yang ketika kita bersiap menyapa

Ia malah memalingkan muka dari kita

 

Namun, apa kita mau seperti itu?

Ikut-ikutan apatis dan masa bodoh dengan tetangga

Saya yakin, tetangga yang senang bila disapa jauh lebih banyak daripada tetangga apatis

 

Kita harus tetap menyapa, karena memberikan salam kepada saudaranya adalah kewajiban kita sebagai seorang muslim

 

Rosululloh pernah bersabda bahwa kewajiban seorang muslim yang satu dengan  muslim yang lain ada enam, yaitu:

  1. Jika bertemu, ucapkan salam
  2. Jika ia memanggilmu, maka penuhilah panggilannya
  3. Jika ia meminta nasehatmu, maka berikanlah nasehat
  4. Jika ia bersin lalu memuji Allah, maka do’akanlah ia
  5. Jika ia sakit, maka jenguklah ia
  6. Jika ia meninggal, maka iringilah jenazahnya

Mengucapkan salam adalah nomor satu. Karena awal dari sebuah hubungan baik antar tetangga awalnya memang dari saling menyapa (salam). Di kota-kota besar, menyapa tetangga memang dianggap hal yang langka, namun apakah kita mau ikut-ikutan seperti itu? Atau memilih menunaikan kewajiban seorang muslim?

 

Kitalah yang memulainya

Jangan menunggu disapa 😀