Just another WordPress.com site

Author Archives: yordan


ayo kerja keras #1

ayo kerja keras #2

 

hampir setiap subuh
saya menjumpai pedagang sayuran di dekat rumah
ia adalah seorang ibu dan anaknya

saya menebak-nebak mereka baru dari pasar
membeli bahan-bahan lalu segera menuju pangkalan
tempat mereka biasa berjualan sayuran
di dekat rumah

anaknya mungkin baru berusia 3-4 tahun
sudah diajak belanja sayuran
pagi-pagi sekali, setiap hari
ma sya Allah

jam 6 pagi saya melihat mereka sudah kumplit
menata dagangan dan suaminya dan anak pertama mereka sudah disana
suaminya mungkin tugasnya lain, membawa gerobak sayur
istrinya memang kalau pagi bawa motor bersama sayuran yang
banyak dibawa beserta anak bontotnya

mungkin dari sekian banyak tukang sayur yang saya jumpai
mereka lah yang paling rajin
kerjasama kolektif satu keluarga
saling bahu membahu, sampai anak terkecilnya pun sejak kecil
sudah dibiasakan ikut

mereka adalah sedikit dari manusia yang memilih bekerja dengan cara terberat
tidur lebih cepat dan bangun jauh lebih awal
itu bukan perkara yang mudah pastinya

bangun jam 1 atau jam 2 pagi
sedang saya bisa bangun jam 4 saja beratnya luar biasa
itu mereka kerjakan setiap harinya
telat sedikit berarti mereka nggak bisa jualan pagi
berarti mereka nggak dapat penghasilan hari itu

mungkin itu yang menyebabkan orang yang ber-wirausaha
lebih disukai Rosululloh ketimbang jadi orang gajian
jadi orang gajian ada kalanya malas-malasan bekerja
toh nggak bekerja saja sudah digaji
toh tiap bulan terimanya sama saja

ya Allah, semoga kami dapat mensyukuri nikmat yang Kau beri
jauhkan kami dari sikap lalai dan malas dalam bekerja



IMG_20140824_093532

menikah adalah suatu perjanjian berat
menikah adalah perjanjian berat yang hanya disebut tiga kali
salah satunya adalah perjanjian yang berat bernama pernikahan
di usia saya yang almost 30
saya dapati banyak sekali perubahan yang terjadi semenjak menikah lebih dari 4 tahun yang lalu
kini, giliran salah satu teman terbaik saya yang menikah
saat yang lain sudah banyak yang sibuk dengan urusan masing-masing
ia dengan sabar menunggu kakaknya menikah
memang itu nggak ada syariatnya dalam islam
memang itu suatu hal yang berat
tapi ia mampu
mampu meluluhkan egonya
mampu menahan diri
demi menuruti permintaan orang tua
agar menikah setelah kakaknya menikah
sebuah ketaatan yang luar biasa kepada orang tua
meski berat, asalkan permintaan itu bukanlah permintaan untuk berbuat maksiat
sahabat, terima kasih
mengajarkan padaku tentang kesabaran
meski kau tahu, itu berat untukmu
ketika teman-temanmu sudah banyak yang menggendong anak
bahkan sampai sudah dua anak
atau bahkan tiga anak
semoga segera dikaruniai keturunan yang akan menlanjutkan perjuangan
semoga lahir dari rahim istrimu anak-anak yang sehat dan kuat
yang berjuang menegakkan Dienul Islam
seperti yang kau ajarkan padaku tentang kehidupan


Image

sumber gambar
Suatu waktu di daerah bogor devi bermaksud naik angkot bersama putrinya. Anak devi ternyata menemukan benda aneh yang tak seharusnya berada di dalam angkot. Ternyata setelah dilihat lebih dekat ada benda mewah bernama Iphone 5, benda yang jadi trend setter kalangan metropolis. Benda yang dijadikan gaya hidup oleh sebagian kalangan.

Tak lama devi pun memutuskan untuk membawa iphone 5 itu kerumahnya. Kemudian mengkonsultasikan mengenai penemuan iphone 5 itu kepada wisnu. Kemudian mereka pun mencoba menyelidiki ponsel pintar itu untuk mengecek siapa pemilik barang itu sebenarnya. Beruntung iphone itu tidak menggunakan kunci kombinasi untuk bisa masuk ke dalamnya.

Alhasil dihubungilah dua nomer yang paling “dicurigai” bisa menguak siapa sebenarnya pemilik ponsel itu yaitu kontak bernama “rumah” dan “istri cinta” namun ternyata dua nomer itu tak bisa pula dihubungi. Media social macam facebook pun sempat dibuka, yang akhirnya muncul profil seseorang dengan latar belakang logo Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hanya saja jika berdasar akun facebook saja, devi masih merasa kurang yakin.

Akhirnya, devi menemukan juga nomer handphone pemilik ponsel itu dari inbox yang tentang tagihan dari operator telepon yang dipakai sang empunya. Singkat cerita setelah dihubungi, ponsel itu pun kembali ke tangan pemilik seharusnya.

***

Betapa cerita ini langka, apalagi berharap berita seperti ini menjadi headline media ternama. Saya sendiri menemukan artikel ini (yang kemudian saya tulis ulang) dari sebuah media islam non mainstream islamedia. Islamedia pun mengutip dari blog beralamat ini bigwisu.com . saya sendiri memilih menyamarkan nama orang yang mengembalikan iphone ini tujuannya agar terjaga keikhlasan sang “devi” seperti biasa saya lakukan di tulisan lainnya.

Berita tentang aksi-aksi kejujuran memang kalah pamor ketimbang gosip artis, perkara korupsi yang belum juga terbukti kebenarannya, gubernur yang sering blusukan tapi bukannya perkara kejujuran ini adalah hal yang langka atau bahkan tidak ada tapi memang perkara seperti ini tidak mendapat tempat di media-media besar. Maka tak heran kita setiap harinya menemukan berita negatif dari media-media besar. Apa jadinya jika otak kita yang kapasitasnya terbatas ini diisi dengan perkara-perkara negatif? Bisa penuh duluan otak kita oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.



 

i_have_a_dream_by_setobuje-1

Mohon maaf saya baru posting lagi hari ini

memang saya cukup kesulitan menggali kisah hikmah yang berasal dari diri sendiri dan kawan dekat

tapi tak ada salahnya saya mengambil kisah dari artikel di internet

yang benar-benar berhikmah

kali ini saya menyoroti perjuangan para jilbaber di era 1980-an

negeri yang mayoritas muslim ini memang ternyata masih harus banyak belajar

belaJar tentang Islam dan syariatnya

buktinya ketika Jilbab disamakan dengan PKI oleh sebagian kalangan

bagaimana perasaan para pendahulu kita itu ya?

Subhanallah, saat ini semakin mudah kita menjalankan syariat Jilbab

kita perlu banyak-banyak bersyukur atas nikmat ini

kisah ini benar-benar membuat kita merenung akan nikmat kebebasan berjilbab

Memoar Perjuangan Jilbab era ’80-an
Kisah jilbab: Ami Fidiyanti, SMA N 28 Jakarta

Kulihat dari ujung kacamataku, teman-teman ikhwan membagi-bagikan jilbab pada teman-teman perempuanku. “Ayo dong pake, nih udah dibawain! Pake’ deh, jadi tambah cakep loh!” ucap mereka dengan semangatnya. Tentu saja kubersyukur. “Ah, teman-teman makasih ya udah ngeringanin tugas akhwat untuk merayu mereka.” Kadang kalau dipikirkan lucu juga teman-teman perempuan itu, mereka nggak kuat kalau yang ngerayu itu ikhwan. Ikhwannya sih seneng-seneng aja, begitu juga dengan teman-teman perempuanku itu yang rela didandanin meng-akhwat. Ya, begitulah yang kami lakukan saat pelajaran agama Islam. Pak Guru membolehkan kami belajar tanpa lepas jilbab maka kami memanfaatkan untuk ‘menjilbabi’ seluruh siswi yang ada di kelas dengan cara memodali mereka jilbab dan peniti. Perbuatan dramatis itu jelas mendapat teguran dari sekolah yang diarahkan ke Pak Guru Agama.

Teguran itu sebenarnya berawal dari sikap kami yang mulai berjilbab di sekolah yang komunitasnya tak pernah berhenti sejak kemunculannya pada 1983 di sekolah tercinta ini. Persoalan jilbab di sekolah negeri mulai ada sejak era ’80-an. Kisahnya selalu klasik yang diakhiri dengan keluarnya siswi tersebut secara sukarela. Hal itulah yang dialami oleh kakak kelas pada angkatan ’83-’85. Tahun-tahun awal itu saat-saat yang berat bagi jilbaber. Apalagi kepengurusan Rohis belum berjalan baik, masih individual dan pengajian di sekolah belum ada. Belum ada komunikasi di antara jilbaber karena jumlahnya masih minim, untuk angkatan ’83 hanya satu orang. Saat itu ia dimusuhi oleh guru bahkan sempat melompat pagar sekolah ketika dikejar-kejar guru karena memakai jilbab terus di sekolah. Akhirnya seperti siswi SMA lain pada umumnya, ia memilih keluar untuk menjaga aqidah Islamiyah. Untuk sesaat, sekolahku ini menjadi kawasan bebas jilbab.

Keberadaan jilbab mulai ‘welcome’ saat jilbaber menurut peraturan sekolah untuk bongkar pasang beberapa tahun setelah peristiwa itu. Wakasek yang kebetulan non-muslim tetap menentang keberadaan kami, sedangkan Kepsek, alhamdulillah tidak terlalu menentang. Ia melihat siswi-siswi berjilbab di SMA tetangga kami (SMA 26) banyak yang membuat harum nama sekolah dengan prestasinya dalam lomba-lomba bidang studi. Di sini, kami memang low profile, hanya ikhwannya yang menonjol sehingga citra jilbab belum terbangun. Walau demikian, para guru cukup toleran dengan memperbolehkan kami membuka jilbab setelah tiba di dalam sekolah. Hal itu tidak bisa kami lakukans etiap saat sebab Wakasek tercinta itu sudah menunggu kami dengan setia di pintu pagar, “Ayo dibuka jilbabnya!” ujarnya tanpa memandang bagaimana perasaan kami ‘digunduli’ di jalan raya yang cukup ramai. Ya, apa boleh buat, kami terpaksa buka jilbab di situ. Alhamdulillah, ia tidak tiap pagi nongkrongin kami. Selamat dari ujian pertama, melangkah pada ujian kedua. Guru BP kadang ngecek siswa, dari baju yang kependekan, sampai… yang kepanjangan. “Kalau ada yang kepanjangan, saya gunting!” katanya. Ah, ujian itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan para sahabat, seperti Bilal atau Amar bin Yassir yang kehilangan kedua orangtuanya.

Kami menyadari bahwa kami berbeda dengan teman-teman yang lain. Jilbab-jilbab yang melambai bahkan ada yang super lebar sampai menyentuh ujung sepatu sempat diprotes sekolah. Yang membuat kami sedih bahkan cenderung stress, yaitu jam olahraga. Olahraga berarti olah jiwa bagi kami. Masya Allah, kami harus pamer aurat, bukan hanya sekadar buka aurat saja. Untuk membayangkannya saja ngeri rasanya, tapi itulah yang terjadi pada tahun 1990. Pada jam olahraga itu kami harus lari keluar dari sekolah. Rute yang ditempuh ialah sekolah-lapangan Palapa PP. Sekolah kami berada pas di pinggir jalan raya. Manusia dan mobil berseliweran setiap detiknya, dan mereka dengan enaknya dapat memandang kami. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kalau ‘gundul’ hanya baju olahraga saja, tanpa kerudung kepala, kami tetap harus berlari. Hanya dengan pakaian dan celana selutut saja sudah begitu menyiksa kami, ditambah lagi harus berkeliling di jalan raya. Tampang kami yang culun dengan rambut diikat kuda tentu kentara bedanya dengan siswi yang tidak berjilbab, seolah-olah orang-orang di jalan mengatakan, “Itu tuh siswi yang pake jilbab!” “Ya Allah, kuatkan hamba.”

Allahu Akbar! Kami mampu melakukan ‘kucing-kucingan’. Setelah keluar dari pintu gerbang, kami mencari mobil yang diparkir, lalu di balik mobil itu, kami mengenakan jilbab dan… berlari. Sampai di daerah Palapa, dengan lambat-lambat, tanganku bergerak ke atas membuka jilbab. “Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Kami sadari kami tidak kaffah, tapi itulah yang mampu kami lakukan saat ini. Ampuni kami ya Allah!”

Kapankah tibanya pertolongan-Mu, ya Allah?

Kapankah Kau kabulkan doa yang kami bisikkan dalam shalat-shalat panjang kami?

Subhanallah, titik terang itu mulai berpencar cahayanya. Saat itu pada 1990, ada musyawarah MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) se-Jaksel yang dihadiri beberapa SMA di antaranya SMA 6, 8, 28, 38, dan 70 yang membahas lokalisasi WTS. Topik yang berkenaan dengan moral itu menjadi momen yang pas untuk melempar isu jilbab dengan harapan jilbab diperbolehkan. Momen kedua menuai isu jilbab saat Pak Arif Rahman (Kepsek SMA Lab-School) berbicara di sekolah kami. Di depan para guru, Pak Arif menyatakan, “Jilbab itu bukan suatu ancaman, malah membuat anak jadi baik.” Allahu akbar! Kami melihat reaksi yang positif. “Ssst… wakepsek ngangguk-ngangguk, ibu BP juga ngangguk-ngangguk, wah ada harapan nih,” bisik teman sebelahku layaknya berdoa.

Doa adalah usaha yang tak pernah kami hentikan, ia selalu terucap dalam setiap detik langkah kami. Subhanallah, Depdikbud sebagai pihak yang berwenang mendengar aspirasi kami (setelah beberapa kasus jilbab mencuat) dengan mengeluarkan SK 100 tahun 1991. Kami bersyukur, dan memang selayaknya bersyukur. Sujud syukur pun dilakukan serentak di Masjid al-Azhar pada Januari 1991. Mendengar kabarnya saja, hanya air mata yang menjadi saksi. Kami tak bisa membendung tangis ini. alhamdulillah wa syukurilah. Sementara itu, kami masih bingung, apakah sudah boleh mengenakan jilbab atau belum karena kami tak mempunyai SK tersebut. Kepsek yang baru hanya menyatakan, “Saya tidak melarang, juga tidak menyuruh,” tetapi guru BP tetap patroli seperti dulu.

Sujud syukur di Masjid al-Azhar dihadiri oleh ratusan muslimah dan subhanallah, aku… adalah salah satu di antaranya. Ternyata, yang berjuang menegakkan syari’at Allah itu bukan hanya aku, banyak sekali jumlahnya, belum lagi di daerah yang tidak sempat menghadiri acara itu. Usai acara di pagi itu, tugas baru menunggu, yaitu memberitahukan kepada teman-teman di sekolah bahwa futuh jilbab sudah benar-benar terjadi. Kami juga harus menentukan apakah mulai hari ini mengenakan jilbab di sekolah, kami bingung. Ya Allah, apakah kami belum siap dengan futuh jilbab? Apakah terlalu singkat perjuangan kami sehingga kami belum bisa menghayati perjuangan kakak-kakak kami dahulu? Akhirnya kami menunda memakai jilbab pada hari bersejarah itu.

Pada masa transisi itu, para ikhwan mengadakan negosiasi dengan sekolah. Mereka meminta akhwat bersabar. “Aduh akhi, bagaimana mau kompromi lagi, ini kan aurat, yang malu kan kita-kita ini para akhwat,” keluh akhwat. Alhamdulillah pada pelajaran olahraga, jilbab boleh dikenakan. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, guru BP memanggil semua jilbaber dari kelas I, II, dan III untuk briefing. Kami, sekitar 40-50 orang sudah mempersiapkan argumen, memilih jubir, tetapi kami tidak sanggup bicara, semuanya menangis duluan. Guru BP memulainya dengan menyentuh jiwa bahwa kewajiban sekolah ini untuk orangtua. Ia memainkan emosi yang terdalam, tentang bakti kami kepada orangtua. Wakasek juga mengingatkan bahwa sikap keras kami tak ubahnya seperti gerakan PKI yang laten. Kami memang menentang peraturan pemerintah, kami menentang sekolah, tapi masya Allah, kami…. Kami juga menentang orangtua, termasuk aku. “Ya Allah, bagaimana kami bisa bicara, kalau kami langsung diingatkan kepada orangtua kami di rumah. Kubayangi bapak dan ibu yang kecewa terhadap sulungnya.”

Aku adalah anak sulung yang dicita-citakan menjadi wanita karir. Ternyata aku lebih cepat diizinkan meraih hidayah-Mu. Aku mengenal jilbab saat SMP kelas III. Aku sempat nyantri saat liburan, yang setiap ustadz datang mengajar, ia selalu mengatakan, “Pakaiannya harus pakaian muslimah!” Kulihat juga keagungan wanita berjilbab. Simpatiku pada jilbab sampai pada tahap identifikasi, sayang ortu tak mengizinkan. Setelah itu, hari-hariku berjalan biasa sampai aku diterima di SMA Negeri 28 Jaksel ini. keahlian menari Jawa mengantarkanku masuk nominasi AFS. Saat tes akhir AFS, aku berada pada garis kebimbangan setelah membaca artikel tentang seorang wanita Barat yang masuk Islam dan memilih hijrah ke Mesir. “Lho kok, kenapa aku, wanita Islam malah mau hijrah ke Amerika?” konflik batin terjadi. Aku teruskan niatku di AFS karena aku tertantang ucapan Bapak yang mengizinkanku berjilbab jika lulus AFS. Ternyata aku gagal.

Sementara itu, Bapak terus mencari kebenaran tentang jilbab kepada seorang ulama terkenal yang baru saja pulang dari Amerika, yang kebetulan tetanggaku. Bapak mendapat pertimbangan bahwa jilbab itu dosa kecil yang diampuni. Astaghfirullah! Kuhiraukan argumen ulama tersebut, aku putuskan pake jilbab saat daftar ulang kelas II. Ortu meradang, katanya, “Ini sekali, apa diterusin?” aku disidang. “Benazir Bhuto saja nggak begitu, Pak itu aja yang ulama keluarganya tidak berjilbab,” tegas Bapak. Aku tetap pada sikapku. Bapak jatuh sakit. Akhirnya aku backstreet, berangkat dari rumah ke sekolah melewati jalan yang sepi lalu pake di sana sampai sekolah.

Hal itu kulakukan selama seminggu di kelas II. “Ya Allah, aku mampu membohongi ortu, tapi… aku tidak mampu membohongi diri sendiri.” Bismillah, aku beranikan diriku pulang dengan memakai jilbab sampai depan rumah. Jilbabku langsung direnggut saat itu juga, aku hanya menatapnya lalu masuk kamar dan mengadu pada Allah. Aku menangis. Bapak mengancamku, “Kalau kamu pake lagi, semua bajumu akan diambil.” Aku mencoba istiqomah dengan mencuci dan menjemur baju sendiri. Herannya, semuanya hilang. Ketika hal ini kuceritakan kepada akhwat di sekolah, mereka malah menertawakanku, “Masa di rumah sendiri hilang,” kata mereka. “Iya… ya, lucu juga.” Walhasil, aku kehabisan baju dan jilbab.

Subhanallah, aku tak pernah membayangkan pertolongan Allah datang kepadaku. Saat aku benar-benar kehabisan sandang untuk sekolah, aku mencoba mengambilnya dari kamar ortu. Kuharap bapak tidak membakar baju dan jilbabku seperti janjinya. Aku tidak tahu bagaimana badanku bisa mengecil sehingga mampu masuk kamar yang terkunci itu. Aku hanya melepas satu buah nako dan melewatinya dengan mudah. Badanku memang kurus, tapi melewati jendela nako yang kulepas satu, aku tak bisa membayangkannya. Allahu akbar. Kudapati di atas lemari, semua baju yang kubutuhkan. Bluur… akhirnya aku ambil dua buah untuk menepis kecurigaan.

Semenjak memakai jilbab dan menentang aturan ortu, aku disisihkan dan tersisih dari keluarga besar. Aku seperti disembunyikan di dalam rumah saja, mereka malu mengajakku karena berjilbab. Itu tidak mengapa, tapi… ternyata Bapak menahan SPP-ku selama satu semester. Alhamdulillah ada om-ku yang membayarkannya tanpa sepengetahuannya. Aku tetap mencoba untuk berkomunikasi, aku katakan kepada Bapak, “Walaupun aku tidak nurut pada Bapak, tapi aku tetap anak Bapak.” Bapak memenuhi permintaanku hingga Bapak kembali membayar SPP. Sikap Bapak tetap tidak berubah.

Tekanan dari sekolah dan terlebih dari rumah membuatku selalu berpikir. Aku terkena sakit kepala yang amat sangat, stress, high tension, dan harus berobat ke bagian neurologi RSCM sendirian. Aku masuk EEG sendirian, dan aku menangis sendirian saat kartu berobatku hilang. Hasil EEG menyatakan bahwa aku tidak ada kelainan, hanya tension headache ‘tekanan psikis’. Hal itu terjadi karena kejadian berat selama dua tahun setelah berjilbab. Aku bertambah stress menjelang UMPTN. UMPTN adalah penetuan, kalau tidak lulus maka aku makin tersisih bahkan dalam keluarga besarku.

Pada saat libur lebaran, kami pulang kampung ke Solo. Ibu mencoba mengobati dengan membawaku ke pengobatan tradisional, macam pijat refleksi. Mungkin ibu kasihan melihatku jika datang pusing yang amat sangat. Aku mengaduh di kamar sampai tetangga sebelah mendengar erangan sakitku. Orangtua itu memengang kakiku, bertanya, “Keras amat sih mbak, mendem apa?” Saya menangis nahan sakit. Ibu menjelaskan, “Iya, dia mau pake jilbab, tapi nggak boleh cerita-cerita apalagi sama Om-nya yang deket, walau tinggalnya jauh dari kami.” Bapak itu juga cerita bahwa anaknya yang kuliah di UNS bahkan bercadar, dan tetap pada pendiriannya. Terus ibu bilang, “Kalau kamu mau pake jilbab, terserah!” Terserah… kata itu yang sebenarnya aku tunggu selama dua tahun dari orangtua yang melahirkanku. Subhanallah ibu ridha. Tiga pekan aku di kampung, penyakitku hilang. Aku mengikuti UMPTN dengan baik dan alhamdulillah aku diterima di PTN favorit pada 1992.

Bila kukenang perjuangan kecilku, ternyata tidak sia-sia. Perlahan, satu persatu adik-adikku ikut mengenakan jilbab. Kenikmatan ini memang terlambat dibanding dengan kenikmatan di sekolah. Sekolah tak melarang lagi setelah SK jilbab ’91 diputuskan dan disosialisasikan. Jumlah dari kami dari 40-an bertambah menjadi 150-an jilbaber. Aktivitas mendandani siswi untuk mengakhwat terus berlanjut walau bahkan setelah pelajaran Agama usai. Hanya guru non-muslim yang menyindir, “Coba ya, dirapikan pakaiannya.” Aktivitas Rohis juga semakin baik. Pak guru Agama ditunjuk menjadi PJ Tafakur Alam SMA se-Jaksel. Rohis sendiri melakukan konsolidasi dengan membina seluruh anggotanya secara kontinu dengan bantuan alumni sampai mereka menjadi alumni. Pihak sekolah mendukung dengan cara mewajibkan acara Rohis, seperti Studi Islam Ramadhan, bahkan masuk rapor. “Tak lepas-lepasnya lidah ini mengucap tahmid pada-Mu, ya Allah.”

buku Revolusi Jilbab karya Alwi Alatas dan Fifrida Desliyanti, bertepatan dengan Hari Hijab Internasional (4 September)

Semoga menjadi pelajaran kita semua



 

774733_294087327380015_2118401008_o

Barusan saya bertemu dengan kakak kelas di kampus dulu

Dan sekarang beliau sekantor dengan istri saya

Mas Rudi namanya, ia bersama tiga anaknya yang masih kecil-kecil

Kisaran usianya SD kelas 2, TK dan belum sekolah

 

Hal yang membuat saya kagum dengan beliau adalah

Membawa tiga anak sekaligus ke masjid bukanlah urusan mudah

Pastinya banyak sekali kesulitan yang ia hadapi

Tapi, dari wajah anak-anak itu saya tak melihat adanya keterpaksaan

Sama halnya seperti anak lain yang diajak pergi ke Mall

 

Apa ya sebenarnya rahasia beliau sehingga anak-anak bisa ke masjid dengan wajah ceria?

Seperti tak ada paksaan apa pun

Mereka begitu kecil, tapi tak memandang masjid sebagai tempat yang membosankan

Tempat yang tidak menarik

Sebelumnya, saya juga melihat seorang teman datang juga dengan anak-anaknya

Entahlah jumlahnya berapa, yang jelas dua atau lebih

Beliau juga berhasil mengajak anak-anaknya ke masjid dengan keceriaan

Bukan sesuatu yang membosankan datang ke masjid

 

Satu lagi, seorang tetangga yang hampir selalu mengajak anak perempuannya

Yang masih usia kisaran satu sampai dua tahun

Masih kecil sekali, tapi sudah diajak ke masjid

Luar biasa, anak ini jarang sekali menangis ketika ayahnya sholat

 

Kira-kira apa ya rahasia mereka sehingga anak-anaknya terbiasa ke masjid?

 

Agaknya, saya melihat syarat utamanya adalah sang ayah haruslah seorang yang sering pergi ke masjid. Mana mungkin anak-anaknya mau ke masjid dengan sendirinya sedangkan ayahnya malah santai-santai dirumah sambil nonton tivi. Tauladan yang baik dari sang ayah. Ingat, wajib hukumnya seorang laki-laki sholat lima waktu di masjid.

 

Syarat berikutnya bisa jadi adalah karena pandainya sang ayah dan bunda memotivasi si anak agar ikut ayah ke masjid. Bisa jadi awalnya sang anak ogah-ogahan namun lama kelamaan sang anak akan menikmati suasana di masjid. Mula-mula mungkin ia hanya akan bermain-main atau bahkan mengganggun sang ayah atau jama’ah lain. Tapi perlahan ia akan mengerti.

 

Ketiga, suasana masjid yang mendukung. Masjid Al Muhajirin di dekat rumah saya adalah masjid yang ber-AC, hanya beberapa masjid yang memasang AC disekitar rumah saya. AC jadi daya tarik bagi anak-anak untuk memilih masjid Al Muhajirin. Suasana yang nyaman dan sejuk rupanya jadi pilihan mereka. Padahal dua teman saya tadi tinggalnya di kompleks lain. Tapi berdasarkan keterangan mereka, anak-anak mau ke masjid yang ada AC-nya.

 

Keempat, tentu saja jama’ah masjid juga berpengaruh. Toleransi kepada anak-anak yang dibawa ke masjid harus di kedepankan, karena anak-anak biasanya akan membuat sedikit “masalah” dimasjid seperti berlari-larian di depan orang sholat atau berteriak-teriak yang mengganggun jama’ah. Itulah pentingnya toleransi dari jama’ah, bukan malah membentak-bentak mereka untuk diam. Perilaku jama’ah yang memarahi anak-anak akan menimbulkan trauma dari anak-anak akan masjid itu sendiri. Oleh sebab itu, toleransi sangat diperlukan agar anak-anak betah di masjid.

 

Mungkin, itu beberapa analisa saya. Saya sendiri belum pernah mengalaminya. Insya Allah, jika Allah berkenan, beberapa bulan lagi saya akan menimang bayi. Saya bertekad untuk sering membawanya ke masjid kelak jika ia sudah usia 1-2 tahun, insya Allah. Laki-laki atau perempuan tak masalah. Walaupun memang, perempuan tidak wajib ke masjid tapi agar sang anak terbiasa dengan suasana masjid tentu hal itu sah-sah saja.

 

NB: Saya tambahkan gambar ilustrasi kartun Muslim Show yang sedang happening di facebook. Betapa tak terkira rasanya perasaan orang tua menyaksikan anaknya bersujud. Subhanallah.



 

plan b silang

 

Kemarin saya terlibat diskusi hangat sembari perjalanan jatinegara-bekasi

Bersama salah seorang alumni stan, pak teguh, yang nyemplung di pusinfowas

Ia mungkin termasuk akuntan yang passionnya gak di akuntansi

Dan ia mengejar passionnya dalam hal programing

Hingga kini berada di pusinfowas

 

Saya pun banyak bercerita tentang mimpi saya

Tentang keinginan punya usaha sendiri

Tentang keinginan mempekerjakan orang banyak

Tentang keinginan bebas mengatur waktu

 

Yah, ketika mimpi sudah diungkapkan ke orang lain

Saya rasa saya harus semakin serius mengejar mimpi saya

Dan seperti yang diungkapkan oleh wahyu aditya

Dalam bukunya “kreatif atau mati”

“there is no plan B”

saya harus mengejar mimpi saya

 

Plan B atau bahkan C adalah bukti bahwa kita adalah orang yang kompromistis

Padahal, barangkali plan B itu adalah rencana “terpaksa” kita

Apalagi plan C, rencana yang nggak usah pakai usaha udah bisa dilaksanakan

Jadi, bagi saya saat ini, mulai sekarang saya nggak akan membuat plan B,C dan seterusnya

Hanya ada plan A

Dan itu harus dikejar sampai titik darah penghabisan

 

Sekarang gini, plan A kamu apa?

Tanyakan dalam diri

Jika belum tau, maka cari terus apa yang menjadi planning kamu

Apa yang ketika mengerjakannya membuat kamu senang dan nyaman?

 

Tak ada kata terlambat untuk memulai

Tak ada ketuaan untuk memulai

Daripada seumur hidup dalam penyesalan

Maka, kejarlah mimpi utamamu

Janganlah menjadikan plan B sebagai dalih

Dalih untuk tidak berusaha secara sungguh-sungguh

 

Sebelum mendengar kata-kata dari mas waya

Saya selalu membuat rencana kedua dan ketiga

Istilah kerennya plan B dan plan C

Namun, ternyata kalo boleh jujur, plan B dan C itu adalah pilihan sisa

Pilihan yang nggak bener-bener dari hati

 

Bayangkan, jika kita terus menjalankan plan B atau C itu

Maka kita tak akan bekerja dengan sungguh-sungguh

Jika sukses, kita pun tetap menjadi orang biasa saja

Kelihatan sukses tapi nggak jadi yang terbaik

Ya karena hal itu bukan cita-cita kita

Hal itu adalah wujud kompromi kita terhadap keadaan

Wujud ketidak mampuan kita mengejar plan A kita

 

 

Jadi, masihkah kita menyiapkan plan B atau C kita?

Saya lebih memilih terus mengejar plan A saya

Meski jalannya tertatih

Meski perkembangannya tidak cukup berarti

Karena saya tahu, ketika saya menjalaninya

Saya tidak menjalani dengan berat hati

Saya menjalani dengan riang gembira

 

Lupakan soal uang melimpah

Karena, uang melimpah itu akan mengikuti kita

Jika memang kita benar-benar menjadi ahli di bidang kita

Bidang yang menjadi passion kita

Bidang yang bukan pelarian kita

 

Uang akan menyusul jika kita telah berusaha dengan sangat mengejar plan A

Kemudian kita memiliki rasa senang dalam menjalankannya

 

Teman, tinggalkan plan B anda

Kejarlah plan A anda!

 

Terima kasih pada mas @wayaditya yang memberikan motivasi saya untuk menulis ini



Image

 

sepanjang kuliah saya di spesialisasi Kebendaharaan Negara STAN

baru kali ini saya seantusias ini pada suatu pelajaran

apa ya mata kuliah persisnya?

Yang jelas membahas tentang utang Negara

 

Saya penasaran dengan utang yang dimiliki Negara ini

Kenapa setiap harinya semakin besar?

Tak adakah upaya untuk menguranginya?

Malah justru, ada saja setiap tahun tambahan utang

 

Sebenarnya apa yang terjadi?

Saya tertarik untuk mendalaminya

 

Ketika PKL pun, saya ambil bahasan utang

Sempat PKL di Ditjen Perbendaharaan yang membawahi soal utang

Saya jadi sedikit tahu (cuma sedikit)

Bahwa utang Negara ini ternyata digunakan untuk membeli barang

Dari Negara yang kasih pinjam

What the maksud of the meaning?

 

Memang nggak semuanya seperti itu,

Tapi dari satu contoh saja, bahwa utang itu ternyata

Banyak yang nggak digunakan untuk hal-hal yang produktif

Makanya, saya geregetan untuk belajar utang Negara

 

Saya pun berkeinginan masuk ke ditjen pengelolaan utang

Pecahan dari ditjen perbendaharaan

Di kementerian keuangan

Apa daya, saya ternyata masuk BPKP

Hal yang sampai sekarang saya sesalkan

Heuheu

 

Dari apa yang saya baca, ternyata banyak utang Negara

Digunakan untuk mengadakan training ke Negara pemberi utang

Digunakan sebagai beasiswa kuliah ke negeri mereka

Lha apa enaknya sih?

 

Ngasih utang tapi segala-galanya diatur sama yang kasih utang

Lha itu sih setengah-setengah namanya

Semuanya di atur dan seolah hanya dipakai untuk memutar roda bisnis mereka

Mereka dapat bunga utang, mereka dapat proyek, ini namanya dobel untung

Indonesia namanya dobel buntung

 

Boleh dong saya bilang utang itu dipakai untuk menjajah?

Lha semuanya diatur sama yang kasih utang kok

Apa nggak menjajah namanya?

 

Kalau hibah gimana don?

Saya sering berpikir, untuk apa ya Negara lain kasih hibah ke Indonesia?

Mau-maunya mereka kasih hibah,

Baik bener yak

Apa ada maunya?

 

Yang saya sering denger dari berita sih Negara jepang paling sering kasih hibah

Misalnya kereta bekas

Maklum lah, saya kan pengguna kereta Commuter Line buatan Jepang ini

Tapi, masak sih perusahaan kereta Indonesia nggak bisa bikin ginian?

Saya yakin PT INKA dapat membuatnya

 

Saya kok jadi berpikir terlalu jauh ya,

Jepang kasih hibah, trus usaha jepang di Indonesia lancar jaya

Apa aja sih usaha mereka?

Yang paling kelihatan ya perusahaan otomotif

Baik mobil atau motor

Ini nih yang paling berandil bikin macet jakarte

Biang keroknya ya perusahaan otomotif

Bener nggak?

 

Jadi kesimpulan saya

Utang maupun hibah, berpotensi menjadikan Negara kita terpenjara

Ibarat makan buah simalakama

Kalau mau utang ya ikut saran mereka untuk kebijakan macem-macem

Sama aja dong Indonesia dijajah via utang dan hibah?

Anda  yang menyimpulkan