Image

sumber gambar
Suatu waktu di daerah bogor devi bermaksud naik angkot bersama putrinya. Anak devi ternyata menemukan benda aneh yang tak seharusnya berada di dalam angkot. Ternyata setelah dilihat lebih dekat ada benda mewah bernama Iphone 5, benda yang jadi trend setter kalangan metropolis. Benda yang dijadikan gaya hidup oleh sebagian kalangan.

Tak lama devi pun memutuskan untuk membawa iphone 5 itu kerumahnya. Kemudian mengkonsultasikan mengenai penemuan iphone 5 itu kepada wisnu. Kemudian mereka pun mencoba menyelidiki ponsel pintar itu untuk mengecek siapa pemilik barang itu sebenarnya. Beruntung iphone itu tidak menggunakan kunci kombinasi untuk bisa masuk ke dalamnya.

Alhasil dihubungilah dua nomer yang paling “dicurigai” bisa menguak siapa sebenarnya pemilik ponsel itu yaitu kontak bernama “rumah” dan “istri cinta” namun ternyata dua nomer itu tak bisa pula dihubungi. Media social macam facebook pun sempat dibuka, yang akhirnya muncul profil seseorang dengan latar belakang logo Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hanya saja jika berdasar akun facebook saja, devi masih merasa kurang yakin.

Akhirnya, devi menemukan juga nomer handphone pemilik ponsel itu dari inbox yang tentang tagihan dari operator telepon yang dipakai sang empunya. Singkat cerita setelah dihubungi, ponsel itu pun kembali ke tangan pemilik seharusnya.

***

Betapa cerita ini langka, apalagi berharap berita seperti ini menjadi headline media ternama. Saya sendiri menemukan artikel ini (yang kemudian saya tulis ulang) dari sebuah media islam non mainstream islamedia. Islamedia pun mengutip dari blog beralamat ini bigwisu.com . saya sendiri memilih menyamarkan nama orang yang mengembalikan iphone ini tujuannya agar terjaga keikhlasan sang “devi” seperti biasa saya lakukan di tulisan lainnya.

Berita tentang aksi-aksi kejujuran memang kalah pamor ketimbang gosip artis, perkara korupsi yang belum juga terbukti kebenarannya, gubernur yang sering blusukan tapi bukannya perkara kejujuran ini adalah hal yang langka atau bahkan tidak ada tapi memang perkara seperti ini tidak mendapat tempat di media-media besar. Maka tak heran kita setiap harinya menemukan berita negatif dari media-media besar. Apa jadinya jika otak kita yang kapasitasnya terbatas ini diisi dengan perkara-perkara negatif? Bisa penuh duluan otak kita oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.

Advertisements